12/07/2010

Frithjof Schuon: Perjalanan Pencarian Islam Sang Filsuf


Kalangan akademisi maupun mahasiswa filsafat dan orang-orang yang menggemari ilmu filsafat tentu mengenal sosok Fritjhof Schuon. Ya, dia adalah salah seorang ahli filsafat yang sangat terkenal. Tidak hanya di kalangan ilmuwan Barat, tapi juga cendekiawan Muslim.

Semasa hidupnya, Frithjof Schuon dikenal sebagai seorang filsuf sekaligus metafisikawan serta penulis berbagai buku bertema agama dan spiritualitas. Namanya juga selalu dikaitkan dengan gagasannya yang tertuang dalam buku fenomenalnya berjudul The Transcendent Unity of Religions. Sebuah buku yang dijadikan rujukan oleh para penganut paham pluralisme agama.

Frithjof Schuon dilahirkan di Basel, Swiss, pada 18 Juni 1907. Ayahnya berdarah Jerman dan ibunya berasal dari Asaltia. Ayahnya adalah seorang pemain biola, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Masa kecilnya ia habiskan di Basel dan bersekolah di sana hingga kematian ayahnya. Sepeninggal ayahnya, Schuon kecil bersama sang ibu memutuskan untuk hijrah ke Mulhouse, Prancis.

Ketika bermukim di Prancis inilah Schuon mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap ilmu filsafat. Salah satu tokoh filsuf yang amat dikaguminya adalah Rene Guenon, seorang filsuf berkebangsaan Prancis. Guenon yang juga merupakan seorang mualaf dikenal sebagai pelopor filsafat abadi.

Sejak usia 16 tahun, Schuon telah melahap berbagai karya Guenon, selain mengkaji karya-karya Plato. Lantaran terobsesi oleh pemikiran Guenon, Schuon memberanikan diri berkorespondensi dengan tokoh panutannya tersebut selama hampir 20 tahun lamanya. Kelak ia menjadi salah seorang tokoh penerus pemikiran Guenon.

Setelah menjalani wajib militer selama 1,5 tahun, Schuon memutuskan untuk hijrah ke Kota Paris. Di kota mode ini, ia mencoba bekerja sebagai desainer tekstil. Pada sela-sela waktu luangnya, Schuon mengikuti kelas bahasa Arab yang diselenggarakan di sebuah masjid di Paris.

Hidup di Paris telah memberikan kesempatan kepada Schuon untuk mengenal berbagai bentuk kesenian tradisional dari berbagai negara, khususnya Asia. Kecintaannya terhadap kesenian tradisional inilah yang kemudian membawanya berkelana hingga ke Aljazair pada 1932. Di sana ia bertemu dengan seorang sufi yang bernama Syekh Ahmad Al-Alawi.

Pada 1935, untuk kali kedua ia melakukan perjalana ke Afrika Utara. Kali ini tidak hanya Aljazair yang dikunjunginya, tetapi juga Maroko. Pengembaraannya ke wilayah Afrika Utara dilanjutkan dengan mengunjungi Mesir antara tahun 1938 dan 1939. Di sini, ia bertemu Guenon untuk pertama kalinya. Pada saat itulah, terjadi transfer ilmu dari guru kepada muridnya secara langsung.

Dari Mesir, ia meneruskan perjalanannya hingga ke negeri India. Di negeri-negeri yang telah dikunjunginya tersebut, Schuon banyak berjumpa dengan tokoh sufi Islam, Hindu, dan Buddha.

Pada 1939, sesaat setelah kedatangannya di India, Perang Dunia II meletus. Keadaan tersebut memaksanya untuk kembali ke Prancis dan mengabdikan diri dalam angkatan bersenjata Prancis. Keikutsertaannya dalam pasukan Prancis membuat dirinya menjadi tahanan perang Jerman. Ia pun mencari suaka ke Swiss.

Oleh pemerintah Swiss ia diberikan status kewarganegaraan Swiss dengan syarat ia harus menetap di sana selama 40 tahun. Pada 1949, ia menikahi seorang perempuan Swiss keturunan Jerman. Sang istri, selain memiliki ketertarikan yang sama dalam bidang agama dan metafisika, juga dikenal sebagai seorang pelukis yang berbakat.

Filsafat Islam
Bersama sang istri, Schuon melakukan perjalanan spiritual ke berbagai belahan dunia sampai ke Amerika Serikat (AS). Dari beberapa kunjungannya ke Amerika, mereka meneliti kehidupan suku India Crow. Pasangan suami istri ini pun sempat menjalani ajaran tentang ritual ibadah dan falsafah hidup suku India Crow.

Akan tetapi, dari sekian banyak ajaran filsafat yang dipelajarinya, ia tertarik dengan filsafat Islam. Hal ini pula yang pada akhirnya mendorong dirinya untuk berpindah keyakinan dan memeluk Islam.

Namun, tidak banyak data mengenai kebenaran tersebut dan yang menyebutkan kapan persisnya ia masuk Islam. Tetapi, disebutkan bahwa setelah menjadi seorang Muslim, ia mengganti namanya dengan Isa Nuruddin Ahmad al-Syazhili al-Darquwi al-Alawi al-Maryami.

Dalam pandangan Schuon, Islam lebih baik dari Hindu karena agama ini memuat bentuk terakhir dari Sanatana Dharma. Ajaran Islam, menurutnya, tidak hanya memuat aspek esoterisme (mencakup aspek metafisis dan dimensi internal agama), tetapi juga aspek eksoterisme (mencakup aspek eksternal, dogmatis, ritual, etika, dan moral suatu agama). Sementara ajaran Hindu hanya mengedepankan salah satu aspek tersebut.

Tahun 1980, Schuon dan istrinya beremigrasi ke Indiana, Amerika Serikat. Ia bermukim di negeri Paman Sam ini hingga akhir hayatnya pada 1998. Sepanjang hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 20 karya tulisan. Meski berbagai gagasan yang ia tuangkan melalui karya-karyanya ini banyak menuai kritikan dan perdebatan, namun hingga kini pemikirannya tersebut masih dipuji dan diikuti oleh sejumlah intelektual bertaraf internasional dan lintas agama.

Inilah Sebagian Dokumen Tentang Indonesia yang Dibocorkan Wikileaks


Wikileaks memiliki sebanyak 3.059 dokumen rahasia Amerika Serikat yang terkait Indonesia. Dokumen itu merupakan semacam laporan diplomatik yang dikirim dari Kedubes AS di Jakarta dan Konjen AS di Surabaya. Situs Wikileaks berjanji akan mempublikasi dokumen itu secara bertahap.

Dan ternyata Wikileaks mulai menepati janjinya. Tiga buah dokumen mengenai Indonesia sudah dirilis. Dokumen itu dibuat dalam bentuk
Congressional Research Service (CSR), lembaga think tank Kongres AS. Dokumen CRS ini biasanya menjadi dasar bagi Senat dan DPR AS dalam mengambil kebijakan. Berikut isi dokumen tersebut:

Masalah Timor Timur
CRS Report RS20332
East Timor Crisis: US Policy and Options
5 November 1999

*Pemerintahan Bill Clinton menekan RI agar menerima kehadiran pasukan perdamaian internasional di Timor Timur usai jajak pendapat 1999.

*Menghentikan kerja sama militer AS dan Indonesia dan mengancam sanksi lebih keras bila tak mau bekerja sama, mengendalikan milisi, dan memulangkan 200 ribu pengungsi Timor Timur.

*Mendukung keputusan IMF dan Bank Dunia menghentikan bantuan mereka untuk Indonesia.

* Bantuan yang dihapus untuk tahun 2000 antara lain bantuan ekonomi 75 juta dolar AS, Economic Support Funds 5 juta dolar AS dan IMET 400 ribu dolar


Tentang Pemilu 2004
CRS Report RS21874 Analyst in Southeast and South
Asian Affairs 20 Mei 2005

*SBY disebut the thinking general

*Bila Wiranto jadi presiden, hubungan RI dan AS akan sangat rumit karena Kongres AS menaruh perhatian besar pada isu pelanggaran HAM di Timor Timur.

*Suksesnya Pemilu 2004 meneguhkan dominasi partai sekuler, yaitu Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat.

Pelatihan Kopassus
Dokumen Joint Combined Exchange Training (JCET) and Human Rights Background and Issues for Congress
26 Januari 1999

*Sejak 1992, Kongres AS memutus program Pelatihan dan Pendidikan Militer In ternasional (IMET) untuk Indonesia setelah tragedi Santa Cruz.

* Namun, di bawah program JCET Dephan yang di setujui oleh Deplu, pasukan Baret Hijau AS melatih 60 anggota pasukan khusus TNI di Indonesia yang sebagian besar Kopassus. JCET berdalih pelatihan murni militer meskipun kurikulum latihan perang kota berjudul ‘crowd control’.

*April 1998, anggota Kongres AS menyurati Menteri Pertahanan Cohen Evans yang menyebut program JCET mengakali larangan Kongres. JCET dihentikan 8 Mei 1998.

Sumber: WikiLeaks, Congressional Research Service