Showing posts with label Fenomena Alam. Show all posts
Showing posts with label Fenomena Alam. Show all posts

7/13/2013

BODREK, OBAT SEJAK KECILKU,,,,,

Tidak tau kapan awal mula saya tepatnya mulai konsumsi bodrek untuk sakit kepala yang saya derita. Awal mula sejak saya kecil, mungkin ketika itu saya sudah menginjak bangku SMP, ketika saya sudah mulai drop akibat kegiatan pertama masuk SMP sehingga membuat kepala pening. Saya mencoba berbagai obat dari dokter tapi tidak ada yang menuntaskan sakit kepala saya secara tuntas. Lagi-lagi balik lagi tuh sakit kepala, kecapean sedikit ya langsung balik lagi, sehingga membuat saya agak putus asa sekolah di SMP Negeri 2 Tegal itu yang notabene memang sekolah terfavorit di kotaku, Kota Tegal tercinta. Sehingga sudah barang tentu banyak kegiatan yang memang membutuhkan kekuatan dan kesehatan jasmani dan rohani yang mumpuni.

Tidak tau juga kapan tepatnya, saya ingat suatu saat ibu saya sakit kepala lalu minum bodrek, saya ingat-ingat itu. Lalu pucuk dicinta ulam tiba, setelah ada kegiatan di sekolah yang menguras tenaga, kepala saya langsung pening, sakit,, bergerak sedikit aja langsung sakit neh kepala, bujubuneng dah,,,.

Tidak pake lama langsung saya minta persediaan bodrek dari ibu, pake pisang (karena gak bisa langsung telen obat tablet, heheh) langsung telan satu tablet aja bodrek, tiduran sebentar, ajaib bisa hilang tuh sakit kepala dan gak balik lagi! Sejak itu gak ada obat sakit kepala yang bisa menyembuhkan sakit kepala saya selain bodrek! Joz gandoz top markotop cetar membahana badai pkoe!

Dan yang bikin heran lagi, gak tau kapan tepatnya juga, hehehe. Pernah ketika di rumah, saya sakit kepala lalu saya minum bodrek, lalu saya langsung tidur siang, ketika bangun sakit kepala hilang, badan kok juga terasa seger banget kaya abis bangun pagi aja, heran pake banget saat itu!

Sampai sekarang pun ketika saya sudah bekerja di Rumah Sakit swasta ternama di Kota Tegal yang notabene ada puluhan dokter spesialis  dan/atau ada ratusan jenis obat sakit kepala, saya tetap setia pake bodrek untuk sakit kepala saya, CEPAT REAKSINYA, TUNTAS KERJANYA, MURAH HARGANYA, LUAS TERSEDIANYA, AMAN EFEK SAMPINGNYA!


Wira Riksapati, SH
JL Rambutan 16
Kota Tegal

9/30/2012

Ada Benda Aneh Mirip Piring Terbang di Google Maps

Dua benda aneh mirip piring terbang tertangkap di Google Maps. Yang satu ada di Texas, sementara penampakan benda aneh lainnya ada di New Mexico.

Jarak penampakan kedua benda aneh di langit tersebut terpisah sampai 1.000 mil. Tapi, anehnya mirip. Gambar ini berupa bayangan menyerupai bentuk pesawat UFO, berwarna oranye menyala.

Dikutip dari laman Dailymail, pengguna online dapat melihat dua benda ini di Jacksonville, Texas dan di Sky City Casino Hotel, 32 Indian Service Route 30, Acoma Pueblo, New Mexico. Gambar ini kemudian memunculkan pertanyaan, bagaimana bentuk piring terbang tersebut bisa terekam di Google.

Kedua objek tersebut sama-sama berada di atas jalan. Gambar piring terbang yang ada di Texas pertama kali diungkapkan warga bernama Andrea Dover kepada sebuah stasiun televisi. Dia menyadari gambar aneh tersebut saat mencari jalan di Google Maps.

Sejauh ini, belum ada yang bisa menjelaskan gambar tersebut, khususnya penduduk di kedua kota. Teori yang paling populer dan masuk akal adalah: gambar mirip piring terbang berpendar tersebut merupakan silau matahari yang tertangkap kamera.

KLTV, stasiun televisi yang berafiliasi dengan ABC sampai mengirimkan wartawannya untuk menginvestigasi gambar tersebut. Tapi, sang wartawan hanya mendapat kata "wow" dari penduduk di Jacksonville.


12/24/2010

Evolusi


Professor Steve Jones,  seorang pakar genetika kenamaan dari University College, London baru-baru ini mengemukakan bahwa Evolusi Manusia sudah berhenti. Alasannya tenaga penggerak evolusi seperti seleksi alam dan mutasi genetika tidak berperan lagi dalam kehidupan manusia modern. Pernyataan ini bisa jadi menjadi peluru baru bagi kaum anti evolusi. Mereka menyindir jangan-jangan manusia memang tidak pernah berevolusi sejak pertama kali muncul di muka bumi.
Evolusi, apa itu evolusi? Apakah kita benar-benar memahaminya sehingga setiap orang merasa berkompeten untuk mendiskusikannya di luar ranah sains?  Juga kenapa evolusi melebar menjadi perdebatan sengit yang tidak kunjung usai?
Sayangnya tidak semua orang benar-benar memahami evolusi sebagai mestinya. Mereka menganggap evolusi hanyalah sekedar teori kaum ateis dan bukan fakta alam. Di lain pihak, banyak di antara kaum evolusionis yang mempertahankannya mati-matian seakan-akan evolusi adalah dogma dan falsafah hidup manusia.
Evolusi, teori atau fakta?
Sejauh menyangkut sains, evolusi adalah keduanya. Evolusi adalah teori karena memenuhi persyaratan sebagai teori. Teori adalah sekumpulan proposisi yang saling berkaitan dan didukung dengan baik, untuk menjelaskan suatu hal, bersifat bisa diuji secara empiris dan bisa memberikan prediksi. Tapi evolusi bukan hanyalah sekumpulan proposisi ilmiah, evolusi adalah fakta. Biarkan H. J. Muller menjelaskannya kepada kita sebagai berikut:
“Tidaklah terdapat batasan yang jelas antara spekulasi, hipotesis, teori, kaidah, dan fakta, yang ada hanyalah perbedaan pada skala derajat probabilitas pemikiran tersebut. Ketika kita mengatakan sesuatu adalah fakta, maka maksud kita hanyalah bahwa probabilitasnya adalah sangat tinggi: sangat tinggi sedemikian rupanya sampai-sampai kita tidak akan meragukannya dan menerimanya. Sekarang, dalam menggunakan istilah fakta ini, yang merupakan satu-satunya penggunaan yang benar, evolusi adalah sebuah fakta.”
Secara akal sehat, apakah kita pernah melihat terjadinya evolusi? Tidak, tidak seorang pun pernah mengamatinya di alam. Evolusi yang kita ketahui adalah perubahan suatu spesies sedikit demi sedikit sehingga suatu saat menjadi spesies yang baru. Tapi kita selalu melihat kucing melahirkan kucing dan bukannya tikus. Keturunan simpanse juga selalu berupa simpanse. Kita tidak pernah mendengar berita seekor kera bercucukan manusia. Tidak pernah sekalipun. Selama ribuan tahun bentuk-bentuk hewan masa kini tetap seperti yang digambarkan oleh manusia kuno pada lukisan di gua-guanya. Lantas darimana semua ide evolusi itu bermula?
Sebenarnya argumen di atas cukup menyesatkan. Sesuatu yang tidak bisa kita lihat bukan berarti sesuatu itu tidak terjadi. Evolusi memang tidak pernah terjadi pada tingkat individu. Secara genetis, individu semacam kucing tidak akan berevolusi menjadi binatang lain selama ia hidup. Tetapi populasi mengalaminya, tentu saja dalam jangka waktu yang sangat panjang sehingga tidak seorang manusia pun pernah mencatatnya. Dalam bukunya What Evolution Is, Ernst Mayr menjelaskan bahwa evolusi adalah: Genetic turnover of the individuals of every population from generation to generation. Karena itu unit terkecil evolusi adalah populasi.
Teori Evolusi didasarkan pada teramatinya fakta bahwa ada keanekaragaman dalam populasi. Begitu beragamnya sampai-sampai Darwin bertanya apakah spesimen-spesimen yang dikoleksinya waktu itu hanyalah berbeda pada tingkat variasi atau memang spesies yang berbeda.
Mari merenungkan fakta ini. Kita sudah tahu bahwa ada jutaan spesies yang telah kita kenal di muka bumi ini. Pertanyaannya adalah apakah semua spesies itu adalah spesies yang sama dengan jutaan tahun yang lalu. Maksudnya mereka tidak pernah berubah sama sekali? ARtinya jumlah spesies sekarang sama dengan jumlahnya saat bumi pertama kali didiami. Selalu konstan dari generasi ke generasi? Ehm, jujur rasio  kita tidak bisa menerimanya. Mereka pasti berubah! Dan kita yakin bahwa keanekargaman fenotip hayati saat ini merupakan dampak dari seleksi alam terhadap genotip populasi nenek moyang makhluk hidup.
Pernahkah kita melihat suatu makhluk hidup tercipta secara tiba-tiba di muka bumi? Tidak bukan? Penciptaan adalah sesuatu yang tidak masuk akal sehat. Segala sesuatu di muka bumi pastilah terjadi melalui suatu proses panjang. Tidak mungkin tiba-tiba tercipta. Manusia yang begitu rumit seperti kita tidaklah mungkin tercipta begitu saja. Manusia mengalami proses panjang sampai seperti sekarang ini. Evolusi adalah jawaban atas keingintahuan kita akan sejarah makhluk hidup.
Kalau ada yang masih tidak percaya bagaimana mungkin manusia dengan 100 triliun sel ini berasal dari nenek moyang satu sel, baiklah saya sebutkan satu fakta modern: manusia berkembang dari sel tunggal embrio.  Dan miniatur evolusi itu bernostalgia hanya dalam sembilan bulan saja dalam rahim ibu.
Anda melihat keanekaragaman spesies. Anda melihat adanya spesiasi dan usaha para biologiwan untuk mengklasifikasikannya dari mulai yang sederhana sampai ke mamamalia semacam manusia. Anda melihat susunan fosil yang bersesuaian dengan silsilah evolusi. Anda melihat adanya adaptasi pada makhluk hidup. Anda melihat asdanya homologi atau kesamaan pada berbagai spesies. Malahan  ada homologi yang universal pada setiap makhluk hidup yaitu asam nukleat. Secara jenius tapi sangat berani, Darwin menyatukan kesemua fakta itu pada satu penjelasan tunggal yaitu Evolusi, bahkan sebelum ia memahami genetika modern.
Apakah kita empunyai alternatif yang jauh lebih rasional dan logis ketimbang evolusi? Sampai sejauh ini, ilmuwan belum menemukan penjelasan yang masuk akal ketimbang evolusi. Ya, sains memang berkembang. Ada begitu banyak argumen evolusi yang belum valid, masih kekurangan data observasi, tapi penalaran yan rasional masih mengarah kepada evolusis. Mau tidak mau, suka tidak suka kita harus menerima evolusi sebagai teori tunggal.

12/12/2010

Ditemukan, Peradaban Dasar di Teluk Persia


Dugaan perabadan manusia pertama di luar Afrika kemungkinan berkembang di kawasan yang kini menjadi teluk Persia semakin kuat. Baru-baru ini peneliti menemukan ada jejak peradaban di bawah perairan teluk itu.

Jefferey Rose, arkeolog dari University of Birmingham, Inggris menyebutkan dalam waktu dekat kita akan menemukan bukti salah satu peradaban paling awal umat manusia di Bumi ada di kawasan yang tadinya subur dan hijau, tapi kini telah tenggelam.

Seperti dikutip dari Currnet Anthropology, 12 Desember 2010, peradaban yang ada di cekungan dangkal itu diperkirakan hidup sekitar 75 ribu hingga 8 ribu tahun lalu.

Kawasan itu juga diduga menjadi tempat berlindung ideal di sekitar padang pasir karena adanya pasokan aliran air dari sungai Tigris, Eufrat, Karun, dan Wadi Baton serta mata air lain.

“Sekitar 8 ribu tahun lalu, lapisan es yang mencair kemudian membuat iklim dunia menjadi semakin basah, lalu membanjiri cekungan teluk Persia,” kata Rose. “Di kisaran waktu itulah kita menemukan bukti hadirnya peradaban yang sudah sangat berkembang di kawasan pantai teluk Persia,” ujarnya.

Peradaban dengan teknologi kelautan yang maju ini, kata Rose, sebelumnya tidak dapat dijelaskan dari mana datangnya. “Dengan temuan ini, ada kemungkinan mereka berasal dari kota-kota di cekungan yang sekarang ada di bawah perairan teluk,” ucap Rose.

Bukti terkuat adanya tempat tinggal manusia di teluk Persia adalah ketika ditemukannya situs arkeologi yang disebut Jabel Faya 1. Di samping peradaban yang ditemukan pada 2006 lalu ini, terdapat pula tiga kawasan lain yang berkembang antara 125 ribu sampai 25 ribu tahun lalu.

“Temuan itu, dan situs-situs arkeologi lainnya mengindikasikan sekelompok manusia awal telah tinggal di sekitar cekungan Persia di zaman Pleistocene Akhir,” sebut Rose. “Saat ini kita membutuhkan arkeolog spesialis bawah air untuk mengamati teluk Persia secara lebih mendalam,” ujarnya.

Bencana, Tanda Akhir Dunia?

Bencana datang satu demi satu di sepanjang 2010. Mendominasi pemberitaan dan menjadi menjadi bahan pembicaraan sehari-hari di mana-mana.
Gempa bumi, baik tektonik maupun vulkanik, berulang kali mengguncang Ibu Pertiwi. Wajar terjadi karena Indonesia terletak di kawasan Cincin Api Pasifik. Beberapa gunung juga kembali aktif. Sebagian besar hanya sebatas timbulkan rasa khawatir. Berbeda dengan Gunung Sinabung dan Gunung Merapi yang tak hanya bangun, namun sungguh-sungguh memakan korban jiwa dan kerugian yang besar.
Ironisnya banyak pejabat yang tak peduli penderitaan masyarakat korban bencana. Mereka justru meminta masyarakat agar maklum atau menyalahkan masyarakat di lokasi bencana karena tinggal di wilayah rawan bencana.
Chikungunya dan beragam kasus penyakit epidemi merebak di seantero Nusantara. Lagi-lagi beberapa perangkat negara hanya melakukan tindakan seperlunya saja. Saat epidemi tak lagi diekspos media, mereka pun seperti lupa bahwa ada masyarakat yang masih menderita.
Lumpur Lapindo pun kembali mengemuka pada Maret dan April saat Jalan Raya Porong sempat terkena semburan lumpur baru. Padahal jelas jalan ini merupakan sarana transportasi penting yang menghubungkan Surabaya dengan Malang dan Pasuruan. Terdengar gaungnya untuk sementara namun tak ada penyelesaian konkretnya.
Berbagai bencana datang berulangkali. Anehnya, tak ada pembelajaran atau persiapan bila bencana yang serupa kembali terjadi di masa depan. Hanya terdengar ratapan sesaat, saling lempar tanggung jawab dan semata pasrah tanpa usaha.
Tentu beda bila bencana yang terjadi diluar kekuasaan insan manusia seperti Badai Matahari dan Tsunami Matahari. Umat manusia hanya bisa pasrah dan berharap kemurahan-Nya. Bahkan tak sedikit yang menganggap berbagai bencana yang akhir-akhir ini terjadi sebagai tanda akhir dunia, Kiamat 2012.

10/04/2010

Ada Bongkahan Es di Planet Mars

Dari penelitian terakhir, disimpulkan bahwa terdapat bongkahan es pernah hadir di planet Mars. Bukti-bukti yang ditemukan menunjukkan bahwa masa lalu terdapat samudera yang dingin di planet tersebut.
Sebelumnya ada dua kemungkinan bagaimana kondisi planet Mars di masa lalu. Pertama, permukaan di sana dingin dan kering. Kedua, Mars sempat memiliki kondisi hangat dan basah, yang memungkinkan planet itu punya danau-danau, laut, serta curah hujan untuk periode waktu yang panjang.
Kini, seperti dikutip dari Livescience, 4 Oktober 2010, peneliti menemukan bekas-bekas bongkahan es di planet Mars. Artinya, ada kemungkinan ketiga, seputar kondisi permukaan Mars di masa lalu, yakni dingin dan basah. Kondisi tersebut memungkinkan Mars punya samudera dan lautan yang sebagiannya diselimuti es dan gletser.
“Jika terdapat bongkahan es, kemungkinan besar di permukaan Mars pernah terdapat perairan dalam ukuran besar,” kata Alberto Fairen, peneliti dari SETI Institute and NASA Ames Research Center.
“Perairan tersebut bisa berukuran beberapa lautan lokal hingga samudera tunggal yang meliputi seluruh permukaan,” kata Fairen. “Dan perairan itu hadir secara terus menerus atau terbagi dalam beberapa periode,” ucapnya.
Fairen menyebutkan, tanda gerusan sepanjang 1 sampai 5 kilometer yang ditemukan di dataran utara dan cekungan Hellas juga bisa menjadi bukti akan adanya bongkahan es di masa lalu.
“Gerusan ini bisa diakibatkan oleh bagian dasar bongkahan es yang mengikis dasar samudera,” kata Fairen. “Ini merupakan bukti paling nyata tentang adanya bongkahan es tersebut,” ucapnya.

8/14/2010

Menyambangi Jendela Tuhan di Afrika


Namanya God's N Window (Jendela Tuhan). Di akhir cerita The Gods Must Be Crazy, Xi meyakini telah mencapai `tepi dunia' setelah tiba di God's Window. Inilah puncak tebing dengan lapisan awan dan kabut yang menutupi pemandangan di bawahnya. Xi melempar botol minuman dari atas tebing itu.

Masih ingat kan adegan penutup film yang bercerita tentang keluguan Xi, penduduk suku pedalaman di Gunung Kalahari, Afrika? Xi merasa botol yang jatuh di kampungnya adalah pemberian Dewa. Karena botol itu membawa masalah, ia mencari `tepi dunia' untuk mengembalikan botol minuman ringan yang sebenarnya dilempar oleh seorang pilot dari pesawat itu.

God's Window berada di kawasan pariwisata di Provinsi Mpumalanga, Afrika Selatan (Afsel). Saya sempat mengunjungi tempat ini di sela kegiatan meliput Piala Dunia. God's Window merupakan salah satu tempat wisata pemandangan yang terletak tak jauh dari kota kecil Graskop. Butuh sekitar 5-7 jam berkendaraan dari Johannesburg ke kota kecil ini.

Ada beberapa tempat wisata yang letaknya berdekatan dan tidak jauh dari Graskop. Tempat-tempat ini dinamai Rute Panorama. Letaknya berdampingan dengan cagar alam Blyde River Canyon. Rute Panorama merupakan wilayah bagian utara dari Pegunungan Drakensberg yang terbentang sepanjang 100 km dari Mpumalanga dan Kwazulu Natal di Afsel hingga negara Lesotho.

Rute Panorama merupakan salah satu tujuan wisata terkenal di Afsel. Keunikan tempat ini adalah tumbuhan yang hidup di tebing bebatuan tetap hijau saat musim dingin tiba. Di saat yang sama, kawasan lain menguning karena tumbuhan yang melayu.

God's Window adalah tempat paling terkenal di Rute Panorama. Letaknya yang strategis membuat God's Window lebih banyak dikunjungi dibandingkan dua tempat lain yang letaknya berdekatan: Pinnacle Rock dan Wonder View. Hanya di God's Window pula pengunjung masuk dikenai biaya sebesar 10 rand (sekitar Rp 12 ribu), padahal di Pinnacle Rock dan Wonder View kita tidak perlu membayar.

Dari God's Window, kita bisa melihat Taman Nasional Kruger dan negara Mozambik yang berjarak 100 km dari tempat tersebut. Sejauh mata memandang, hutan pinus dan semak belukar hijau terhampar. Pemandangan ini --ditambah kabut dan awan yang terkadang menyelimuti-menjadi alasan mengapa tempat ini dinamai God's Window.

Kita harus menempuh jarak lebih dari 110 km dari ibu kota Mpumalanga, Nelspruit. Jalur yang saya lalui adalah melewati jalan provinsi, R40, melewati kota kecil White River dan Hazyview.
Antara White River dan Hazyview yang berjarak sekitar 50 km, terhampar hutan pinus dan perkebunan pisang.

Dari Hazyview, kita bisa mengambil jalan R 535 menuju Graskop. Di sisi kiri dan kanan jalan sepanjang 35 km, kita bisa menikmati keindahan hutan pinus dan berhenti di beberapa tempat wisata sebelum tiba di God's Window.

Keindahan tebing Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Graskop Gorge (Jurang Graskop). Di tempat ini kita bisa menyaksikan keindahan tebing dengan air terjun yang diberi nama Panorama Fall. Saat saya datang, debit air di Panorama Fall sangat kecil sehingga tidak layak disebut air terjun. Lebih mirip mata air yang banyak keluar dari sisi pegunungan atau dataran tinggi di Indonesia.

Pengelola tempat ini menyediakan wahana yang bisa memacu adrenalin, yakni meluncur melintasi jurang dengan tali untuk mencapai tebing di seberang. Kita mengenalnya dengan nama flying fox. Selain itu disediakan bar untuk bersantai dan tempat penjualan cendera mata khas Afsel.

Hanya berjarak sekitar dua kilometer dari Graskop Gorge, saya tiba di Pinnacle Rock. Di tempat ini ada batu yang mirip menara (Pinnacle) setinggi 30 meter dari lembah di bawahnya.
Kita tidak bisa memandang jauh karena terhalang tebing. Namun, jika mau berjalan mencari sisi yang lebih baik, kita bisa mendapatkan pemandangan yang lebih luas. Tapi, di luar batu yang unik ini, pemandangan di Pinnacle Rock sangat biasa bagi saya.

Setelah Pinnacle Rock, barulah kita mencapai God's Window. Setelah membayar, mobil diparkir persis di depan deretan penjual cendera mata. Tempat ini jauh lebih hijau dan tertata dibandingkan dua tempat sebelumnya. Ada dua jalan kecil yang masing-masing digunakan untuk masuk dan keluar. Hawa sejuk dataran tinggi ditambah pepohonan kecil rimbun yang mengapit sisi kiri dan kanan jalan membuat nyaman perjalanan.

Saya tak bisa menuju puncak karena waktu yang mepet dan hujan rintik-rintik. Saya hanya bisa menyaksikan keindahan alam dari dua sisi tebing ­­hanya berjarak sekitar 100 meter dari parkiran mobil. Padahal, konon, pemandangan paling indah tersaji di puncak paling tinggi God's Window --yang kira-kira berada di ketinggian 1.892 meter dari permukaan laut. Bagi yang ingin menuju puncak, disarankan berhati-hati, terlebih saat turun hujan, karena jalan setapak yang harus dilalui biasanya licin.

Di dua sisi tebing yang saya singgahi, pengelola membuat panggung kecil dari kayu serta pagar pembatas. Tujuannya untuk menjaga keamanan para pengunjung. Tidak seperti dua tempat sebelumnya, cukup banyak pengunjung silih berganti masuk ke God's Window. Rata-rata mereka berfoto dengan latar belakang tebing dan lembah di bawahnya.

Bagi saya, keindahan pemandangan dari beberapa kawasan dataran tinggi di Indonesia masih lebih bagus dibandingkan God's Window. Namun, jika dibandingkan dengan beberapa tempat wisata pemandangan lain yang sempat saya kunjungi di Afsel, God's Window layak menempati urutan pertama.

Provinsi Mpumalanga disebut surga wisata karena keindahan alamnya. Namun, bagi saya, berbagai keindahan alam yang ditawarkan provinsi seluas 79.490 km2 ini, masih kalah dibandingkan kawasan wisata di Indonesia.

Di Mpumalanga, pemerintah setempat sangat memanjakan pendatang sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar. Sulit menemukan akses jalan yang buruk ke tempat-tempat wisata. Kebersihan juga sangat dijaga. Imbauan menjaga kebersihan dipajang di berbagai tempat. Kita tak sulit mencari toilet yang seluruhnya bersih. Saya tidak menemukan satu pun toilet kotor berbau pesing -baik di Rute Panorama maupun di tempat wisata lain di Mpumalanga, seperti Taman Nasional Kruger.

Tidak ada orang yang mengganggu. Para pedagang menjual dagangannya dengan tertib dan tidak memaksa meski terkadang menawarkan barangnya dengan harga tinggi. "Uang yang Anda belanjakan mendukung keberlangsungan kehidupan para pedagang yang merupakan warga sekitar," begitu tulis sebuah pengumuman yang saya baca di God's Window.

8/09/2010

Akhirnya, Misteri Segitiga Bermuda Terpecahkan!



Misteri hilangnya beberapa kapal laut dan pesawat terbang di wilayah yang disebut 'Segitiga Bermuda' kini tersingkap sudah. Singkirkan jauh-jauh teori tentang pesawat luar angkasa alien, anomali waktu, piramida raksasa bangsa Atlantis, atau fenomena meteorologis.

Segitiga Bermuda adalah sebuah fenomena gas akut biasa, demikian tulis Salem-News.com. Gas alam, sama seperti gas yang dihasilkan oleh air mendidih, terutama gas metana, adalah tersangka utama di balik hilangnya beberapa pesawat terbang dan kapal laut. Bukti dari penemuan yang membawa sudut pandang baru terhadap misteri yang menghantui dunia selama bertahun-tahun itu tertuang dalam laporan American Journal of Physics.

Professor Joseph Monaghan meneliti hipotesis itu ditemani oleh David May di Monash University, Melbourne, Australia. Dua hipotesis dari penelitian itu adalah balon-balon raksasa gas metana keluar dari dasar lautan yang menyebabkan sebagian besar, untuk tidak mengatakan semua, kecelakaan misterius di lokasi itu.

Ivan T Sanderson sebenarnya telah mengidentifikasi sona-sona misterius selama tahun 1960-an. Sanderson bahkan menggambarkan sebenarnya zona-zona misterius itu lebih berbentuk seperti ketupat ketimbang segitiga. Sanderson menemukan bahwa bukan saja Segitiga Bermuda tetapi Laut Jepang dan Laut Utara adalah dua area tempat kejadian misterius sering terjadi.

Para Oseanograf yang menjelajah di dasar laut Segitiga Bermuda dan Laut Utara, wilayah di antara Eropa daratan dan Inggris melaporkan menemukan banyak kandungan metana dan situs-situs bekas longsoran. Berangkat dari keterkaitan itu dan data-data yang tersedia dua peneliti itu menggambarkan apa yang terjadi jika sebuah balon metana raksasa meledak dari dasar laut.

Metana, yang biasanya membeku di bawah lapisan bebatuan bawah tanah, bisa keluar dan berubah menjadi balon gas yang membesar secara geometris ketika ia bergerak ke atas. Ketika mencapai permukaan air, balon berisi gas itu akan terus membesar ke atas dan ke luar.

Setiap kapal yang terperangkap di dalam balon gas raksasa itu akan langsung goyah dan tenggelam ke dasar lautan. Jika balon itu cukup besar dan memiliki kepadatan yang cukup, maka pesawat terbang pun bisa dihantam jatuh olehnya. Pesawat terbang yang terjebak di balon metana raksasa, berkemungkinan mengalami keruskan mesin karena diselimuti oleh metana dan segera kehilangan daya angkatnya.