ReXpoZ forum is a link where we all and especially me can share the various knowledge, which is expected to occur interactive discussions and useful, so can achieving the truth
Showing posts with label Islam modern. Show all posts
Showing posts with label Islam modern. Show all posts
12/12/2010
Hikmah Tayammum
Apakah dikau pernah kesetrum listrik statis waktu memegang handle pintu yang terbuat dari bahan logam seperti almunium pas musim dingin??? Daku kira pasti TIDAK, karena di indon ga ada musim dingin, kecuali dikau pernah tinggal di jepang, china, korea ataupun negara yang ade musim dinginnya. Dan tahu ga nape hal ini cuma terjadi di musim dingin. Karena molekul air yang mengembun di tubuh kita akan menetralkan listrik statis yang terakumulasi di tubuh kita.Saat musim dingin, udara sangat kering, sehingga kagak ade molekul air di permukaan kulit kita. Elektron yang terkumpul di tubuh kita, yang kebanyakan berasal dari gesekan jaket yang kita kenakan, akan terus terakumulasi. Dan begitu tangan kita menyentuh logam yang merupakan konduktor yang baik, elektron yang terakumulasi tadi langsung "meloncat" dari tubuh kita ke logam tersebut. Itu disebut fenomena "petir mini", dimana ujung jari dikau akan terasa seperti tersambar petir. Hal ini mirip dengan fenomena penangkal petir. Di atas ada gumpalan uap air yang kaya akan elektron. Elektron elektron itu akan "meloncat" ke bumi melalui titik titik terdekat dengan awan yang terbuat bahan konduktor yang bagus. So... kalau kita kagak ingin tersambar pertir mini alias kesetrum listrik statis, sebelum kita memegang handle pintu, basahilah dulu tangan kita dengan air atau kalo kagak ada air, salurkan saja elektron di tubuh kita ke bumi dengan menebakkan tanganmu ke tanah atau tembok. Itulah nape daku bilang bukan cuma debu kotoran yang nempel di tubuh kita, ada kotoran yang kagak keliatan yang kalo kagak segera di buang akan lebih berbahaya dari debu,... nama kotoran yang harus di buang itu "ELEKTRON." Hanya dengan mengusapkan air ke permukaan kulit saja, maka "kotoran" elektron itu dengan mudah "terbuang" dari tubuh kita. Karna molekul molekul air (H2O) bersifat polar, dimana dengan sangat mudah menyerap elektron elektron yang terakumulasi di tubuh kita. Oiya, Muhammad pernah loh mandi besar hanya dengan menggunakan air satu ciduk saja, kurang lebih satu literan lah. Ternyata yang dibutuhkan cuma membasahi seluruh permukaan tubuh dengan air, tanpa harus mengguyurnya; dan itulah tujuan dari wudhu dan mandi besar, hanya perlu membasuh saja, dan bukan mengguyur. Kesimpulannya, hanya dengan membasuh kulit tubuh dengan air itulah kelebihan elektron(listrik statis) di permukaan tubuh kita akan dinetralkan atau. Muhammad pernah ngomong kalo mandi wajib juga bisa di ganti dengan tayammum, di mana tayammumnya juga sama persis dengan tayamum sebagai pengganti wudhu. Kalo ada orang yang bertayammum dengan cara bergulung gulung di tanah dengan alasan sebagai ganti mandi wajib itu namanya "OON" . Tertanda ateis & teis.
9/22/2010
IKHTISAR SEJARAH PEMIKIRAN FILSAFAT (1): AKAL-BUDI DAN IMAN
IKHTISAR SEJARAH PEMIKIRAN FILSAFAT (1):
AKAL-BUDI DAN IMAN
Mider ing rat saya nglangut
Lelana njajah negari
Mubeng tepining samodra
Sumengka agraning wukir
Anelasak wana wasa
Tumurun ing jurang terbis
(Kinanti)
Yang dibahas disini terutama filsafat Barat, karena misalnya filsafat India dan filsafat Cina lebih bersifat mengajar bagaimana manusia mencapai "keselamatan" ("moksa"), atau bagaimana manusia harus bertindak supaya diperoleh keseimbangan antara dunia dan akhirat. Tak dapat diungkiri didalamnya juga ada unsur akal, tetapi bukan produk dari refleksi yang sifatnya kritis rasional.
Ada empat periode besar dalam filsafat Barat:
(A). Zaman Yunani (600 sM - 400 M)
(B). Zaman Patristik dan Skolastik (300 M - 1500 M)
(C). Zaman Modern (1500 M - 1800 M)
(D). Zaman sekarang (setelah 1800 M).
Patut dicatat bahwa tiap zaman memiliki ciri dan nuansa refleksi yang berbeda. Dalam zaman Yunani diletakkan sendi-sendi pertama rasionalitas Barat. Zaman Patristik dan Skolastik ditandai oleh usaha yang gigih untuk mencari keselarasan antara iman dan akal, karena iman di hati, dan akal ada di otak. Tidak cukuplah sikap credo quia absurdum = "aku percaya justru karena tidak masuk akal" Tertulianus, 160-223 M. Dalam Zaman Modern direfleksikan berbagai hal tentang rasio, manusia dan dunia. Jejak pergumulan itu terdapat dalam aliran-aliran filsafat dewasa ini.
1 Zaman Yunani
Is not the good good because it contains the idea of the good?
Plato
1.1 Filsafat pra-sokrates ditandai oleh usaha mencari asal (asas) segala sesuatu ("arche" =
). Tidakkah di balik keanekaragaman realitas di alam semesta itu hanya ada satu azas? Thales mengusulkan: air, Anaximandros: yang tak terbatas, Empedokles: api-udara-tanah-air. Herakleitos mengajar bahwa segala sesuatu mengalir ("panta rei" = selalu berubah), sedang Parmenides mengatakan bahwa kenyataan justru sama sekali tak berubah. Namun tetap menjadi pertanyaan: bagaimana yang satu itu muncul dalam bentuk yang banyak, dan bagaimana yang banyak itu sebenarnya hanya satu? Pythagoras (580-500 sM) dikenal oleh sekolah yang didirikannya untuk merenungkan hal itu. Democritus (460-370 sM) dikenal oleh konsepnya tentang atom sebagai basis untuk menerangkannya juga. Zeno (lahir 490 sM) berhasil mengembangkan metode reductio ad absurdum untuk meraih kesimpulan yang benar.
1.2 Puncak zaman Yunani dicapai pada pemikiran filsafati Sokrates (470-399 sM), Plato (428-348 sM) dan Aristoteles (384-322 sM).
1.2.1 Sokrates menyumbangkan teknik kebidanan (maieutika tekhne) dalam berfilsafat. Bertolak dari pengalaman konkrit, melalui dialog seseorang diajak Sokrates (sebagai sang bidan) untuk "melahirkan" pengetahuan akan kebenaran yang dikandung dalam batin orang itu. Dengan demikian Sokrates meletakkan dasar bagi pendekatan deduktif. -- Pemikiran Sokrates dibukukan oleh Plato, muridnya.
Hidup pada masa yang sama dengan mereka yang menamakan diri sebagai "sophis" ("yang bijaksana dan berapengetahuan"), Sokrates lebih berminat pada masalah manusia dan tempatnya dalam masyarakat, dan bukan pada kekuatan-kekuatan yang ada dibalik alam raya ini (para dewa-dewi mitologi Yunani). Seperti diungkapkan oleh Cicero kemudian, Sokrates "menurunkan filsafat dari langit, mengantarkannya ke kota-kota, memperkenalkannya ke rumah-rumah". Karena itu dia didakwa "memperkenalkan dewa-dewi baru, dan merusak kaum muda" dan dibawa ke pengadilan kota Athena. Dengan mayoritas tipis, juri 500 orang menyatakan ia bersalah. Ia sesungguhnya dapat menyelamatkan nyawanya dengan meninggalkan kota Athena, namun setia pada hati nuraninya ia memilih meminum racun cemara di hadapan banyak orang untuk mengakhiri hidupnya.
1.2.2 Plato menyumbangkan ajaran tentang "idea". Menurut Plato, hanya idea-lah realitas sejati. Semua fenomena alam hanya bayang-bayang dari bentuknya (idea) yang kekal. Dalam wawasan Plato, pada awal mula ada idea-kuda, nun disana di dunia idea. Dunia idea mengatasi realitas yang tampak, bersifat matematis, dan keberadaannya terlepas dari dunia inderawi. Dari idea-kuda itu muncul semua kuda yang kasat-mata. Karena itu keberadaan bunga, pohon, burung, ... bisa berubah dan berakhir, tetapi idea bunga, pohon, burung, ... kekal adanya. Itulah sebabnya yang Satu dapat menjadi yang Banyak.
Plato ada pada pendapat, bahwa pengalaman hanya merupakan ingatan (bersifat intuitif, bawaan, dalam diri) seseorang terhadap apa yang sebenarnya telah diketahuinya dari dunia idea, -- konon sebelum manusia itu masuk dalam dunia inderawi ini. Menurut Plato, tanpa melalui pengalaman (pengamatan), apabila manusia sudah terlatih dalam hal intuisi, maka ia pasti sanggup menatap ke dunia idea dan karenanya lalu memiliki sejumlah gagasan tentang semua hal, termasuk tentang kebaikan, kebenaran, keadilan, dan sebagainya.
Plato mengembangkan pendekatan yang sifatnya rasional-deduktif sebagaimana mudah dijumpai dalam matematika. Problem filsafati yang digarap oleh Plato adalah keterlemparan jiwa manusia kedalam penjara dunia inderawi, yaitu tubuh. Itu persoalan ada ("being") dan mengada (menjadi, "becoming").
1.2.3 Aristoteles menganggap Plato (gurunya) telah menjungkir-balikkan segalanya. Dia setuju dengan gurunya bahwa kuda tertentu "berubah" (menjadi besar dan tegap, misalnya), dan bahwa tidak ada kuda yang hidup selamanya. Dia juga setuju bahwa bentuk nyata dari kuda itu kekal abadi. Tetapi idea-kuda adalah konsep yang dibentuk manusia sesudah melihat (mengamati, mengalami) sejumlah kuda. Idea-kuda tidak memiliki eksistensinya sendiri: idea-kuda tercipta dari ciri-ciri yang ada pada (sekurang-kurangnya) sejumlah kuda. Bagi Aristoteles, idea ada dalam benda-benda.
Pola pemikiran Aristoteles ini merupakan perubahan yang radikal. Menurut Plato, realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita, sedang menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera-mata kita. Aristoteles tidak menyangkal bahwa bahwa manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadarannya oleh pendengaran dan penglihatannya. Namun justru akal itulah yang merupakan ciri khas yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Akal dan kesadaran manusia kosong sampai ia mengalami sesuatu. Karena itu, menurut Aristoteles, pada manusia tidak ada idea-bawaan.
Aristoteles menegaskan bahwa ada dua cara untuk mendapatkan kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode rasional-deduktif dan metode empiris-induktif. Dalam metode rasional-deduktif dari premis dua pernyataan yang benar, dibuat konklusi yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung unsur-unsur dalam kedua premis itu. Inilah silogisme, yang merupakan fondasi penting dalam logika, yaitu cabang filsafat yang secara khusus menguji keabsahan cara berfikir. Logika dibentuk dari kata logikoz, dan logoz berarti sesuatu yang diutarakan. Daripadanya logika berarti pertimbangan pikiran atau akal yang dinyatakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.
Dalam metode empiris-induktif pengamatan-pengamatan indrawi yang sifatnya partikular dipakai sebagai basis untuk berabstraksi menyusun pernyataan yang berlaku universal.
Aristoteles mengandalkan pengamatan inderawi sebagai basis untuk mencapai pengetahuan yang sempurna. Itu berbeda dari Plato. Berbeda dari Plato pula, Aristoteles menolak dualisme tentang manusia dan memilih "hylemorfisme": apa saja yang dijumpai di dunia secara terpadu merupakan pengejawantahan material ("hyle") sana-sini dari bentuk ("morphe") yang sama. Bentuk memberi aktualitas atas materi (atau substansi) dalam individu yang bersangkutan. Materi (substansi) memberi kemungkinan ("dynamis", Latin: "potentia") untuk pengejawantahan (aktualitas) bentuk dalam setiap individu dengan cara berbeda-beda. Maka ada banyak individu yang berbeda-beda dalam jenis yang sama. Pertentangan Herakleitos dan Parmendides diatasi dengan menekankan kesatuan dasar antara kedua gejala yang "tetap" dan yang "berubah".
Dalam konteks ini dapat dimengerti bila Aristoteles ada pada pandangan bahwa wanita adalah "pria yang belum lengkap". Dalam reproduksi, wanita bersifat pasif dan reseptif, sedang pria aktif dan produktif. Semua sifat yang aktual ada pada anak potensial terkumpul lengkap dalam sperma pria. Wanita adalah "ladang", yang menerima dan menumbuhkan benih, sementara pria adalah "yang menanam". Dalam bahasa filsafat Aristoteles, pria menyediakan "bentuk", sedang wanita menyumbangkan "substansi".
Dalam makluk hidup (tumbuhan, binatang, manusia), bentuk diberi nama "jiwa" ("psyche", Latin: anima). Tetapi jiwa pada manusia memiliki sifat istimewa: berkat jiwanya, manusia dapat "mengamati" dunia secara inderawi, tetapi juga sanggup "mengerti" dunia dalam dirinya. Jiwa manusia dilengkapi dengan "nous" (Latin: "ratio" atau "intellectus") yang membuat manusia mampu mengucapkan dan menerima "logoz". Itu membuat manusia memiliki bahasa.
Pemikiran Aristoteles merupakan hartakarun umat manusia yang berbudaya. Pengaruhnya terasa sampai kini, -- itu berkat kekuatan sintesis dan konsistensi argumentasi filsafatinya, dan cara kerjanya yang berpangkal pada pengamatan dan pengumpulan data. Singkatnya, ia berhasil dengan gemilang menggabungkan (melakukan sintesis) metode empiris-induktif dan rasional-deduktif tersebut diatas.
Aristoteles adalah guru Iskandar Agung, raja yang berhasil membangun kekaisaran dalam wilayah yang sangat besar dari Yunani-Mesir sampai ke India-Himalaya. Dengan itu, Helenisme (Hellas = Yunani) menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan pemikiran filsafati dan kebudayaan di wilayah Timur Tengah juga. -- (Catatan kecil saja dari FSP: Maka jangan terkejut jika pandangan berat-sebelah tentang pria-wanita sangat dominan sampai kini. Legitimasi filsafati agaknya telah diberikan oleh Arsitoteles atas praktek yanh umum di dalam masyarakat Timur Tengah, Eropa abad pertengahan dan dimana saja. Gereja Katolik pun selama berabad-abad mengikuti pendirian yang sama, sekalipun landasan biblisnya sama sekali tidak ada. Yesus, sebagaimana tampak dalam Injil, memiliki pandangan yang sama sekali tidak berat-sebelah tentang gender.)
Aristoteles menempatkan filsafat dalam suatu skema yang utuh untuk mempelajari realitas. Studi tentang logika atau pengetahuan tentang penalaran, berperan sebagai organon ("alat") untuk sampai kepada pengetahuan yang lebih mendalam, untuk selanjutnya diolah dalam theoria yang membawa kepada praxis. Aristoteles mengawali, atau sekurang-kurangnya secara tidak langsung mendorong, kelahiran banyak ilmu empiris seperti botani, zoologi, ilmu kedokteran, dan tentu saja fisika. Ada benang merah yang nyata, antara sumbangan pemikiran dalam Physica (yang ditulisnya), dengan Almagest (oleh Ptolemeus), Principia dan Opticks (dari Newton), serta Experiments on Electricity (oleh Franklin), Chemistry (dari Lavoisier), Geology (ditulis oleh Lyell), dan The Origin of Species (hasil pemikiran Darwin). Masing-masing merupakan produk refleksi para pemikir itu dalam situasi dan tradisi yang tersedia dalam zamannya masing-masing.
1.3 Zaman Yunani pasca-aristoteles ditandai oleh tiga aliran pemikiran filsafat, yaitu Stoisisme, Epikurisme dan Neo-platonisme. Stoisisme (Zeno, 333-262 sM) terkenal karena etikanya: manusia berbahagia jika ia bertindak rasional. Epikurisme (Epikuros, 341-270 sM) juga terkenal dalam etika: "kita harus memiliki kesenangan, tetapi kesenangan tidak boleh memiliki kita".
Neo-platonisme (Plotinos, 205-270 M). Idea kebaikan (idea tertinggi dalam Plato) disebut oleh Plotinos to en = "to hen", yang esa, "the one". Yang esa adalah awal, yang pertama, yang paling baik, paling tinggi, dan yang kekal. Yang esa tidak dapat dikenal oleh manusia karena tidak dapat dibandingkan atau disamakan dengan apa pun juga. Yang esa adalah pusat daya, -- seluruh realitas berasal dari pusat itu lewat proses pancaran (emanasi), bagai matahari yang memancarkan sinarnya. Kendati proses emanasi, yang esa tak berkurang atau terpengaruh sama sekali.
Dari to en mengalir nouz = "nous", budi, akal, bahkan roh (?). "Nous" merupakan "bayang-bayang" dari "to hen". Dari "nous" mengalir ynch = "psykhe", jiwa, yang merupakan perbatasan "nous" dengan mh ou = "me on", materi, yang merupakan kemungkinan atau potensi bagi keberadaan suatu bentuk, yang pada manusia adalah tubuh. "Psykhe" merupakan penghubung antara "nous" yang terang, yang berlawanan dengan materi yang gelap, yang rohani berlawanan dengan yang jasmani. -- Menurut neo-platonisme, perlawanan itu merupakan penyimpangan dari kebenaran. Untuk mencapai kebenaran, manusia harus kembali kepada "to hen", dan itulah tujuan hidup manusia. "To hen" kiranya identik dengan konsep "Sang Sangkan Paraning Dumadi" dalam tradisi Jawa.
Kesatuan mistis dengan "to hen" merupakan kebenaran sejati. Manusia harus berkontemplasi untuk mengatasi hal-hal yang inderawi, yang merupakan penghambat besar bagi pembebasannya dari hidup dalam dimensi materi yang bersifat gelap (dan berakhir kepada kematian) menuju kepada hidup dalam dimensi roh yang membawa kepada terang (serta awal dari kekekalan).
Jejak pemikiran neoplatonisme dapat diamati dalam pengalaman mistik, yaitu pengalaman menyatu dengan Tuhan atau "jiwa kosmik". Banyak agama menekankan keterpisahan antara Tuhan dan Ciptaan, tetapi para ahli mistik tidak menemui pemisahan seperti itu. Mereka jutru mengalami rasa "penyatuan dengan Tuhan". Ketika penyatuan itu terjadi, ahli mistik merasa dia "kehilangan dirinya", dia lenyap ke dalam diri Tuhan atau hilang dalam diri Tuhan, sebagaimana setitik atau sepercik air kehilangan dirinya ketika telah menyatu dalam samudera raya.
Tetapi pengalaman mistik itu tidak selalu datang sendiri. Ahli mistik harus mencari jalan "pencucian dan pencerahan" untuk bisa bertemu dengan Tuhan, melalui hidup sederhana dan berbagai teknik meditasi. Kecenderungan mistik tu diketemukan dalam semua agama besar di dunia. Dalam "agama" Jawa dikenallah konsep "manunggaling kawula lan Gusti", yang jejaknya dalam sastra suluk Jawa digali dan diungkapkan bagi generasi masa kini dalam konteks filsafat dan pandangan keagamaan oleh Zoetmulder. (Zoetmulder SJ almarhum adalah Guru Besar di Fakultas Sastra UGM).
2 Zaman Patristik (Para Bapa Gereja)
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat
untuk mengajar,
untuk menyatakan kesalahan,
untuk memperbaiki kelakuan, dan
untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaaan Allah
diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
2 Tim 3:16-17
Pemikiran filsafati para Bapa Gereja Katolik mengandung unsur neo-platonisme. Para Bapa Gereja berusaha keras untuk menyoroti pokok-pokok iman kristiani dari sudut pengertian dan akalbudi, memberinya infrastruktur rasional, dan dengan cara itu membuat pembelaan yang nalar atas aneka serangan. Pada dasarnya Allah menjadi pokok bahasan utama. Hakekat manusia Yesus Kristus dan manusia pada umumnya dijelaskan berdasarkan pembahasan tentang Allah. Ditegaskan, terutama oleh Agustinus (354-430 M) bahwa manusia tidak sanggup mencapai kebenaran tanpa terang ("lumens") dari Allah. Meskipun demikian dalam diri manusia sudah tertanam benih kebenaran (yang adalah pantulan Allah sendiri). Benih itu memungkinkannya menguak kebenaran. Sebagai ciptaan, manusia merupakan jejak Allah yang istimewa = "imago Dei" (citra Allah), dalam arti itu manusia sungguh memantulkan siapa Allah itu dengan cara lebih jelas dari pada segala ciptaan lainnya.
"Tuhan, engkau lebih tinggi daripada yang paling tinggi dalam diriku, dan lebih dalam daripada yang paling dalam dalam batinku" -- itu ungkapan Agustinus tentang pengalaman manusia mengenai transendensi dan imanensi Allah dalam satu rumusan. Dalam zaman ini pokok-pokok iman Kristiani dinyatakan dalam syahadat iman rasuli (teks "Aku Percaya" yang panjang). Didalamnya dituangkan rumusan ketat pokok-pokok iman, termasuk tentang trinitas -- tentu saja dalam katagori pemikiran filsafati pada waktu itu dan dengan bahan dari Alkitab.
Agustinus menerima penafsiran metaforis atau figuratif atas kitab Kejadian, yang menyatakan bahwa alam semesta dicipta creatio ex nihilo dalam 6 hari, dan pada hari ketujuh Allah beristirahat, sesudah melihat semua itu baik adanya. "Allah tidak ingin mengajarkan kepada manusia hal-hal yang tidak relevan bagi keselamatan mereka". Penciptaan bukanlah suatu peristiwa dalam waktu, namun waktu diciptakan bersama dengan dunia. Penciptaan adalah tindakan tanpa-dimensi-waktu yang melaluinya waktu menjadi ada, dan tindakan kontinu yang melaluinya Allah memelihara dunia. Istilah ex nihilo tidak berarti bahwa tiada itu merupakan semacam materi, seperti patung dibuat dari perunggu, namun hanya berarti "tidak terjadi dari sesuatu yang sudah ada". Hakikat alam ciptaan ialah menerima seluruh Adanya dari yang lain, yaitu Sang Khalik. Alam ciptaan adalah ketergantungan dunia kepada Tuhan.
Disini tidak disinggung persoalan, apakah penciptaan itu terjadi dalam waktu, atau terjadi pada suatu ketika atau sudah ada sejak zaman kelanggengan. Para ahli filsafat pada umumnya sependapat bahwa a priori kita tidak dapat memastikan mana yang terjadi. -- Menciptakan, sebagai tindakan aktif, dipandang dari sudut Tuhan, merupakan cetusan kehendakNya yang bersifat langgeng, karena segala sesuatu dalam Tuhan adalah langgeng. Tetapi dipandang dari sudut ciptaan, secara pasif, ketergantungan dari Tuhan, terciptanya itu dapat terjadi dalam arus waktu, atau di luarnya, sejak zaman kelanggengan. Jadi kelirulah jika dibayangkan bahwa Tuhan suatu ketika menciptakan alam dunia lalu mengundurkan Diri. Andaikata Tuhan seolah-olah beristirahat, maka buah ciptaan runtuh kembali ke nihilum, ke ketiadaan. Dunia terus menerus tergantung pada Tuhan (creatio dan sekaligus conservatio).
Ketika ditanya mengenai apa yang dilakukan Allah sebelum menciptakan dunia, Agustinus menjawab tidak ada artinya bertanya mengenai itu, karena tidak ada waktu sebelum penciptaan tersebut.
3 Zaman Skolastik
Egoo eimi ho oon.
Sum qui sum.
I am who I am.
Aku adalah Aku.
(Keluaran 3:14)
Saya membagi zaman skolastik dalam 2 tahapan (1) zaman skolastik timur, yang diwarnai situasi dalam komunitas Islam di Timur Tengah, abad 8 s/d 12 M, dan (2) zaman skolastik barat, abad 12 s/d 15 M, yang diwarnai oleh perkembangan di Eropa (termasuk jazirah Spanyol).
Secara sederhana, dalam zaman Patristik, "filsafat
teologi", dengan tanda
dapat dibaca sebagai "identik dengan", "sama sebangun dengan", "praktis tidak berbeda dengan". Sementara dalam periode skolastik timur, terdapat berbagai interpretasi atas simbul
dalam rumusan "filsafat
teologi", dalam periode skolastik barat tidak ada keraguan tentang makna simbul
dalam rumusan "filsafat
teologi".
3.1. Periode skolastik timur
Abad ke-5 s/d abad ke-9 Eropa penuh kericuhan oleh perpindahan suku-suku bangsa dari utara. Pemikiran filsafati praktis tidak ada. Sebaliknya di Timur Tengah. Sejak hadirnya agama Islam dan munculnya peradaban baru yang bercorak Islam, ada perhatian besar kepada karya-karya filsuf Yunani. Itu bukan tanpa alasan. Pada awal abad 8 krisis kepemimpinan melanda Timur Tengah; amanat Nabi seperti terancam untuk menjadi pudar dan dalam situasi tak menentu itu dikalangan pada mukmin muncullah deretan panjang ahli pikir yang ingin berbuat sesuatu, berpangkal pada penggunaan akal dan azas-azas rasional, dan menyelamatkan Islam.
(1) Mashab Mu'tazila (725 - 850 - 1025 M) meminjam konsep-konsep pemikiran Yunani dan melihat akal sebagai pendukung iman. Pengakuan akal sebagai sumber pengetahuan (selain sumber wahyu) mendorong penelitian tentang manusia (kodrat, martabat dan tabiatnya). Mengikuti etika Aristoteles, karena akal membuat manusia mampu membedakan baik dan buruk, maka berbuat baik adalah wajib. Pemimpin harus mewajibkan umatnya berbuat baik, masing-masing warga menjauhkan diri dari perbuatan tercela. Daripadanya dijabarkan hubungan antar-manusia dan antar-bangsa, dan hak azasi (kemauan bebas) manusia. Pandangan ini cocok dengan Al Qur'an (Surah 3 ayat 110): "amr bil-a'ruf wa'l nahy an'al-munkar".
Mashab Mu'tazila ada pada pendapat bahwa Al Qur'an tercipta, artinya "dirumuskan oleh manusia, dengan latar belakang tempat dan zaman yang khusus". Maka para Mu'tazila membaca Al Qur'an dengan kacamata rasionalis.
(2) Mashab falsafah pertama (830 - 1037 M), berhaluan neoplatonis dan aristoteles. Kata "falsafah" dipakai untuk mengartikan filsafat hellenis dalam kosakata bahasa Arab, ahli fikirnya disebut "faylasuf" ("falasifa - jamak). Empat tokol besar : al-Kindi (800-870 M), al-Razi (865 - 925 M), al-Farabi (872 - 950 M) dan Ibn-Sina (980 - 1037 M). Menggumuli masalah klasik "perbedaan antara dhat dan wujud" ("distinctio realis inter essentiam et existentiam"). Mereka ada pada pendapat, bahwa akal adalah pendamping iman. Al-Razi menolak ijazu'l Qur'an. Tulis al-Razi: "Tuhan memberi kepada manusia akal sebagai anugerah terbesar. Dengan akal kita mengetahui segala apa yang bermanfaat bagi kita dan yang dapat memperbaiki hidup kita. Berkat akal itu kita mengetahui hal yang tersembunyi dan apa yang akan terjadi. Dengan akal kita mengenal Tuhan, ilmu tertinggi bagi manusia. Akal itu menghakimi segala-galanya, dan tidak boleh dihakimi oleh sesuatu yang lain. Kelakuan kita harus ditentukan oleh akal semata-mata".
(3) Mashab pemikiran ketiga disebut pula Kalam Ashari, berpusat di Bagdad, dan bercorak atomisme (yang dicetuskan pertama kali oleh Democritus, 370 sM), dan bergumul dengan soal sebab-musabab, kebebasan manusia, dan keesaan Tuhan. Para tokohnya: al-Ash'ari (873-935 M), al-Baqillani (?-1035), dan al-Ghazali (1065-1111 M).
Pandangan yang bercorak atomistis berpangkal pada pendapat bahwa peristiwa alam dan perbuatan manusia tidak lain daripada kesempatan atau tanda penciptaan langsung dari Tuhan. Daya alami serta hubungan wajib sebab-akibat dalam penciptaan itu tidak ada. Segala sesuatu terjadi oleh campur tangan al-Khaliq, "tiada yang tersembunyi daripadaNya seberat dharahpun" (Al-Qur'an Surat 34 ayat 3). Tiap kejadian terdiri atas deretan terputus-putus atom-atom, tanpa ada hubungan kausal. "Kami menyangkal bahwa makan dan minum menyebabkan kenyang". Yang ada hanya monokausalitas mutlak illahi. Apabila tampak sesuatu akibat dari suatu tindakan, maka itu hanya semu, karena Allah menghendaki hal itu. Tuhan mahakuasa dan mendalangi setiap kegiatan insani. Manusia tidak memiliki kehendak bebas, yang bebas itu hanya semua saja. Manusia hanya boneka atau wayang dalam pergelaran semalam suntuk. "Bila manusia bertindak baik, itulah ditentukan Allah sesuai rahmatNya; bila dia berbuat jahat itu dikehendaki Allah sesuai keadilanNya".
Dalam "Al-Tahafut al-filasifah" al-Ghazali membuat sistematisasi atas filsafat dalam 20 dalil dan membuat kajian dan bantahan yang keras atas tiap-tiap dalil itu. Empat dari 20 dalil diberi nilai kufurat. Ilmu sebagai pengetahuan sesuatu melalui sebab-sebabnya dimungkiri; seluruh pengetahuan ilmiah adalah sia-sia. Secara singkat "al-aql laysa lahu fi'l-shar' majal" -- untuk akal tiada tempat dalam agama.
(4) Jauh dari pusat khilafat Abbasiyah di Timur Tengah, di kawasan yang dikenal sebagi Maghrib al-Aqsa (Barat jauh: Afrika barat laut, jazirah Andalusia, yaitu Spanyol sekarang) berkembanglah pusat Islam dalam kesenian, ilmu pengetahuan dan filsafat. Ibn Bajjah (1100-1138 M), Ibn Tufail (? - 1185), dan Ibn Rushd ("Averroes") (1126-1198 M) merupakan 3 filsuf utama dalam perioda Filsafat Kedua (1100 - 1195 M) ini.
Ciri para filsuf ini pada umumnya menolak haluan anti-rasional Al Ghazali. Ibn Bajjah menegaskan adalah tugas seorang filsuf untuk meningkatkan martabat hidupnya dengan merenungkan kenyataan rohani sampai akhir hayat. Akal adalah hal yang paling berharga yang dikaruniakan Tuhan kepada abdiNya yang setia.
Ibn Tufayl terkenal oleh buku roman filsafi yang berjudul Risalat HAYY IBN YAQZAN fi asrar al -himah al-mashiriyyah.
Ibn Rushd dikenal oleh 3 kelompok karyanya: tafsir atas Aristoteles, karangan polemis (tentang karya-karya filsafat di kawasan timur) dan karangan apologetis (yang membela Islam dari ancaman dari dalam). Tahafut al-tahafut merupakan serangan frontal atas al-Tahafut al-filasifah al-Ghazali. Menolak pandangan al-Ghazali, ditegaskannya bahwa ilmu secara esensial adalah pengetahuan sesuatu berdasarkan sebabnya. Kita menanggapi hubungan sebab-akibat dengan pancaindera, dan memahaminya sebagai nyata dengan akal. Dengan akibat atau setiap perubahan diciptakan secara langsung oleh iradat ilahi tanpa pengantaraan sebab tercipta (wasa'ith), seluruh dunia dimerosotkan menjadi kaos dan irasional, tanpa tata-tertib, tanpa nizam atau inayah. Itu bertentangan dengan akal sehat dan menentang wahyu Qur'an, yang melukiskan dunia sebagai karya teratur Allah yang maha bijaksana.
Karya apologetisnya (2 buku yang ditulis pada tahun 1179 M) juga membela hak hidup filsafat dalam Islam, baik sebagai ilmu otonom, maupun sebagai ilmu bantu dalam teologi. Rushd melihat filsafat sebagai "sahabat al-shari'at w'ahat al-ruzdat", teman teologi ibarat saudari sesusuan. Filsafat diwajibkan oleh al-Qur'an, agar manusia dapat memuji karya Tuhan di dunia ini (antara lain Surah 3 ayat 188, Surah 6 ayat 78, Surah 7 ayat 184, Surah 59 ayat 2, dan Surah 88 ayat 17) . Bila studi hukum (fiqh) tidak disertai studi filsafat, fiqh membuat budi sempit dan memalsukan agama.
Pengaruh Ibn Rushd sang filsuf dari Cordova itu terhadap alam pikiran Islam selanjutnya mungkin tidak seberapa, dia bahkan dikatakan hanya mewariskan "sekeranjang buku seberat sosok mayatnya". Tetapi naskahnya populer di Eropa, khususnya di lingkungan kampus Universitas Paris, dan menyebar dari sana. Dengan karyanya, Aristoteles yang dijuluki "Sang Filsuf" diperkenalkan mutiara pemikirannya oleh Ibn Rushd yang oleh karena itu mendapat julukan "Sang Komentator". Sebagai akibatnya, obor perenungan filsafati Yunani, seperti diarak melalui Timur Tengah ke Barat Jauh oleh para filsuf muslim (yang sering hidup menderita), dan dengan itu diestafetkan kepada para filsuf Eropa (Barat) dan ke seluruh dunia. Itulah sumbangan berharga para filsuf muslim dalam khazanah perenungan tak kunjung henti manusia dalam menemukan jati diri dan realitas di sekelilingnya.
3.2 Perioda skolastik Barat
Awal abad 13 ditandai dengan 3 hal penting: (1) berdirinya universitas-universitas, (2) munculnya ordo-ordo kebiaraan baru (Fransiskan dan Dominikan), dan (3) diketemukannya filsafat Yunani, melalui komentar Ibn Rushd, yang dipelajari dan dikritik dan diteliti dengan cermat oleh Thomas Aquinas (1225 - 1274 M). Tema filsafat perioda ini adalah hubungan akal budi dan iman, adanya dan hakekat Tuhan, antropologi, etika dan politik.
Otonomi filsafat yang bertumpu pada akal, yang merupakan salah satu kodrat manusia, dipertahankan. Menurut Thomas Aquinas, akal memampukan manusia mengenali kebenaran dalam kawasannya yang alamiah. Sebaliknya teologi memerlukan wahyu adikodrati. Berkat wahyu adikodrati itu teologi dapat mencapai kebenaran yang bersifat misteri dalam arti ketat (misalnya misteri tentang trinitas, inkarnasi, sakramen). Karena itu teologi memerlukan iman, karena hanya dapat dijelaskan dan diterima dalam iman. Dengan iman yang merupakan sikap penerimaan total manusia atas wibawa Allah, manusia mampu mencapai pengetahuan yang mengatasi akal. Meski misteri ini mengatasi akal, ia tidak bertentangan dengan akal. Meski akal tidak dapat menemukan (menguak) misteri, akal dapat meratakan jalan menuju misteri ("prae-ambulum fidei").
Dengan ini Thomas Aquinas menegaskan adanya dua pengetahuan yang tidak perlu bertentangan, atau dipertentangkan, tetapi berdiri sendiri berdampingan: pengetahuan alamiah (yang berpangkal pada akal budi) dan pengetahuan iman (yang bersumber pada kitab suci dan tradisi keagamaan). Adalah Wihelm Dilthey (1839-1911) yang akhirnya membedakan dengan tegas "Geisteswissenschaften" = "human sciences" dari "Naturwisensshaften" = "natural sciences", sementara Max Weber membedakan "erklaeren" sebagai ciri-ciri ilmu alam dari "verstehen" yang merupakan ciri khas ilmu-ilmu kemanusiaan.
9/19/2010
Menyibak Keajaiban di Balik Wudhu
Wudhu adalah salah satu syariat Islam. Allah SWT memerin tahkan umat Islam untuk membersihkan diri atau berwudhu, sebelum mendirikan shalat lima waktu. (QS Al-Ma'idah [5]: 6).
Sebab, wudhu merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah shalat oleh Allah. "Allah tidak akan menerima shalat seseorang di antara kamu, hingga dia berwudhu ." (HR Bukhari No 135, dan Muslim No 224-225).
Secara umum, tujuan berwudhu adalah untuk membersihkan diri dari hadats dan najis yang menempel di badan. Seperti kencing, kotoran manusia, air liur anjing, babi, wadzi, madzi, dan lainnya. Di balik tujuan tersebut, terkandung makna yang sangat dalam. Wudhu bukan hanya sekadar untuk kebersihan, tapi juga menyehatkan, baik fisik maupun psikis (kejiwaan), baik kesehatan jasmani maupun rohani.
Dunia ilmu kedokteran telah membuktikan khasiat wudhu. Di balik ibadah yang sederhana, murah, dan mudah, bahkan terkadang dianggap sepele, ternyata terkandung hikmah yang sangat luar biasa. Wudhu menyimpan berbagai kemukjizatan yang mengagumkan. Bahkan, berapa banyak orang yang masuk Islam, karena Islam mengajarkan kebersihan dari ibadah yang bernama wudhu.
Tak salah bila Allah mewajibkan syariat wudhu ini sejak 14 abad silam kepada umat Islam. Di dalamnya terkandung hikmah dan manfaat yang sangat besar. Bahkan, bila seseorang melaksanakan dan mengerjakan wudhu dengan baik dan benar, niscaya tubuhnya akan senantiasa sehat dan terhindar dari berbagai serangan penyakit. Baik penyakit kulit, asma, kanker, pilek, sinusitis, migren, kudis, kurap, dan lain sebagainya.
Dunia ilmu kesehatan mengenal berbagai macam metode dan pencegahan penyakit. Bahkan, ribuan tahun silam, ilmu kesehatan Tiongkok mengenal istilah akupunktur, yaitu suatu metode kesehatan dengan cara tusuk jarum. Ada ribuan titik yang harus ditusuk dengan jari, jika ingin mendapatkan kesehatan yang prima. Dan tidak mudah mempelajari titik-titik itu, karena jumlahnya mencapai 4.000-5.000 titik.
Setelah akupunktur, muncul kemudian pengobatan refleksiologi, yaitu menekan titiktitik syaraf tubuh yang terletak pada kaki dan tangan. Jumlah titik refleksi di kaki dan tangan ini mencapai ratusan lebih.
Pada 1997, metode refleksi dan akunpunktur dianggap sebuah metode yang sangat rumit, karena banyaknya titik yang harus dipahami dan dihapalkan. Maka, seorang dokter yang bernama Gary Craig, asal Inggris, melakukan modifikasi teknik akupunktur yang jumlahnya mencapai ribuan itu menjadi 18 titik. Ia menyebut teori modifikasi akupunktur ala Gary Craig ini dengan nama Emotional Freedom Technique (EFT). Teknik yang digunakan untuk pengobatan adalah dengan cara mengetok (tapping).
Kemudian pada tahun 2000-an, EFT ini dikembangkan lagi oleh Ahmad Faiz Zainuddin, alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dengan nama Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT). Teknik yang digunakan juga dengan cara mengetok (tapping). Dan jumlah titik yang diketok itu hanya ada 14. Dinamakan SEFT karena ia menggabungkan unsur doa dan kalimat thayyibah dalam tekniknya ini.
Perintah membersihkan diri atau berwudhu, sebenarnya juga diajarkan dalam agama lainnya. Kaum Yahudi juga melaksanakan wudhu (atau yang serupa dengan wudhu) dan membersihkan diri sebelum beribadah kepada Allah. Demikian pula dalam ajaran Kristen dan Katolik. Hal ini tertulis dengan jelas dalam kitab Keluaran, Kejadian, Ulangan, dan lainnya. Bahkan, dalam ajaran kaum Sabian (Shabiin), yaitu pengikut Nabi Yahya AS, mereka juga melaksanakan wudhu sebelum shalat. Shalat kaum Sabian ini adalah menghadap ke kutub utara.
Karena itu, wudhu yang seringkali dianggap sepele, sebenarnya merupakan syariat yang harus dan wajib dikerjakan. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengerjakannya secara baik dan benar. Padahal, dalam sejumlah hadis, Rasul SAW memerintahkan umat Islam agar menyempurnakan wudhunya. "Sempurnakanlah wudhumu, karena sesungguhnya Aku (Rasul--Red) akan mengenali kalian di hari kiamat nanti dari bekas wudhunya."
Cermin Kerukunan dalam Gerakan Shalat
Dalam banyak riwayat digambarkan bahwa Rasulullah selalu memelihara shalat secara berjamaah. Sepanjang melaksanakan shalat, mereka menjalin hubungan mesra, bukan saja dengan Allah (habl min Allah), melainkan juga dengan sesama manusia (habl min an-nas).
Keseluruhan gerakannya mengilustrasikan persamaan dan kesetaraan, sekaligus mengikat kuat kebersamaan dan kedekatan satu sama lain. Dalam suasana batin yang tulus, jasad yang bersih, tak ada kata yang terucap kecuali mengagungkan Allah. Setelah seorang imam menutup surah al-Fatihah, jamaah pun menjawab, "amin".
Dalam shalat, mereka menyamakan persepsi, sikap, dan bahkan perilaku. Lihatlah, ketika waktu shalat tiba, mereka menghentikan sementara seluruh aktivitas yang tengah dilakukannya. Mereka bergegas mendatangi rumah-rumah Allah dan bertasbih menghormati tempat suci itu. Semua berbaris rapi, mengikuti isyarat yang sama untuk melakukan gerakan yang sama pula.
Keseluruhan perasaannya tercurah total kepada Sang Pencipta. Di pengujung shalat, semua serempak menebar keselamatan, "Assalamu'alaikum", sebagai wujud penghambaan kepada-Nya dan penghormatan kepada sesamanya. Inilah wujud kebersamaan yang dibangun di atas nilai-nilai religiositas keislaman.
Pada kesempatan itulah Rasulullah memelihara kerukunan dengan para sahabat. Nasihat-nasihatnya disampaikan untuk mempertebal keyakinan dalam berkhidmat pada kepentingan ajaran. Mengalirlah kata-kata hikmah dari seorang Nabi pilihan Allah, "Bangun keakraban di antara sesama". Kini, pemandangan sejarah itu semakin kabur. Suasana rukun pelan-pelan lenyap. Rasulullah pun melihat pemandangan akhir zaman itu dalam suasana perih. Seolah tak sanggup menyaksikan kenyataan porak-porandanya umat, terpecah-pecah kepentingan dan egoisme. Semangat primordial yang sering mengancam kebersamaan, dan begitu mudah merobohkan tiang-tiang persaudaraan.
Mungkin ada hikmah di balik rasa perih itu. Mengapa Allah tak mengamini kehendak Rasulullah untuk tetap menjaga kokohnya kebersamaan? Di antara rasa perih dan keharusan menyampaikan risalah inilah, Nabi SAW tak lelah memberi nasihat, "bangunlah keakraban". Keakraban memang dapat menjembatani segala bentuk kebekuan, terutama kebekuan psikologis yang sering merusak kebersamaan.
Keakraban juga mendorong tumbuhnya solidaritas dan kerja sama untuk mewujudkan kesadaran kolektif mengikat umat. Lebih memprihatinkan lagi ketika suasana itu melilit hubungan antarumat beragama. Memang, istilah 'umat beragama' telah lama menjadi ungkapan yang sangat akrab. Namun, belum tentu setiap orang memberikan apresiasi yang sama. Umat beragama, di satu sisi, dapat dilihat sebagai wujud kebersamaan individu yang terikat pada nilai-nilai agama. Ia adalah potensi sosial yang dapat menjadi kekuatan raksasa dalam mewujudkan cita-cita kolektif menuju kesejahteraan bersama.
Tapi, di sisi lain, kerap kali umat beragama hanya dipandang sebagai kekuatan politik yang dimanfaatkan untuk kebutuhan sesaat. Karena itu, sangat mungkin, jika agama cenderung berperan sebagai pemicu konflik ketimbang perekat kebersamaan. Wallahu A'lam
8/14/2010
MER-C Tak Yakin Ba`asyir Terlibat Terorisme
Ketua Medical Emergency Resque Commitee (MER-C) Jose Rizal Jurnalis yakin Abu Bakar Ba`asyir tak terlibat dalam kelompok jaringan teroris dan jihad yang menggunakan senjata api serta bom. "Sebab, ustaz paling tak setuju dengan aksi jihad seperti itu," Kata Jose Rizal di Mabes Polri Jakarta, Sabtu (14/8).
Jose Rizal Jurnalis kini merawat kesehatan Ba`asyir. Di usianya yang ke-72, Ba`asyir dianggap tak mungkin terlibat dalam pelatihan militer di Nanggroe Aceh Darussalam seperti dituduhkan Polri. "Tidak mungkin rasanya dia terlibat," lanjut Jose Rizal.
Kendati begitu, Jose Rizal tidak menepis jika Ba`asyir mendukung jihad di daerah yang berkonflik, seperti Afghanistan dan Palestina. Bukan di daerah yang damai. "Untuk daerah damai tak mungkinlah (berjihad-red)," lanjut Jose Rizal.
Mengenai latihan militer di Aceh, menurut Jose Rizal, itu adalah latihan terbuka. Semua orang tahu, termasuk aparat TNI dan warga sekitar. Jadi bukan latihan yang tersembunyi. Dia tidak bisa memastikan apakah Ba`asyir pernah datang ke latihan tersebut atau tidak
Jose Rizal Jurnalis kini merawat kesehatan Ba`asyir. Di usianya yang ke-72, Ba`asyir dianggap tak mungkin terlibat dalam pelatihan militer di Nanggroe Aceh Darussalam seperti dituduhkan Polri. "Tidak mungkin rasanya dia terlibat," lanjut Jose Rizal.
Kendati begitu, Jose Rizal tidak menepis jika Ba`asyir mendukung jihad di daerah yang berkonflik, seperti Afghanistan dan Palestina. Bukan di daerah yang damai. "Untuk daerah damai tak mungkinlah (berjihad-red)," lanjut Jose Rizal.
Mengenai latihan militer di Aceh, menurut Jose Rizal, itu adalah latihan terbuka. Semua orang tahu, termasuk aparat TNI dan warga sekitar. Jadi bukan latihan yang tersembunyi. Dia tidak bisa memastikan apakah Ba`asyir pernah datang ke latihan tersebut atau tidak
Pengamat: Kebijakan & Hukum Negara Membiarkan Kekerasan Antarumat
Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin menegaskan banyaknya aksi kekerasan dalam hubungan antar umat beragama akhir-akhir ini disebabkan oleh kebijakan maupun hukum negara yang terlalu membiarkan. Menurut Din, situasi itu merupakan ketidakefektifan atau kegagalan negara dalam menunaikan tugas dan tanggung jawabnya untuk mengelola kesejahteraan, serta kemajuan rakyat karena membiarkan hal semacam itu terjadi.
“Padahal negara (merupakan) pemegang hak mandataris untuk mengelola (kesejahteraan dan kemajuan rakyat) itu,” tegasnya dalam diskusi Polemik:Merdeka Tapi Cemas, di Jakarta Sabtu (14/8). Ia menambahkan, apabila negara terus menerus tidak hadir, maka rakyatnya akan muncul dan membuat Indonesia berubah menjadi negara kekerasan.
Pihak negara yang dimaksudnya adalah semua bagian dari eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pengabaian semacam ini, kata dia, membuat warga negara yang merasa aspirasinya kurang didengar dalam proses demokrasi, maka menjadi anarkis karena tidak adanya penyaluran.
Berbagai tindak kekerasan itu, menurut dia, harus ditindak secara hukum. "Namun, yang terjadi justru malah sebaliknya. Tidak ada tindakan apapun dari aparat keamanan, dalam hal ini kepolisian," kata Din.
Kebebasan beragama, kata Din, bukan lahir karena konstitusi yang diciptakan oleh negara, melainkan muncul karena prinsip-prinsip beragama itu sendiri. "Jadi, kalau ada kelompok yang menyatakan agama tidak mendukung kebebasan beragama kelompok lain, mereka itu itulah yang sebenarnya kelompok anti agama," tegas Din.
Untuk mengatasi persoalan ini, Din berharap persoalan agama tidak diserahkan kepada masyarakat seperti layaknya pasar bebas. "Kalau urusan kebebasan beragama diserahkan ke pasar bebas itu jelas tidak baik. Tetapi, harus diatur,” katanya. Pemerintah, merupakan pihak yang berkewajiban untuk mengaturnya, sehingga ada kesadaran bersama.
Sementara Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhi Massardi berpendapat maraknya tindak kekerasan yang membawa-bawa bendera Islam sebagai akibat sikap pemerintahan yang plin-plan dan tidak berani mengambil tindakan tegas."Kapolrinya melihat presidennya setengah-setengah, dia juga ikut setengah-setengah," ujarnya. Ardhi juga menuding pemilu presiden yang sarat unsur pencitraan ikut berperan membentuk situasi tersebut. "Yang muncul yakni presiden sebagai pemimpin citra."
“Padahal negara (merupakan) pemegang hak mandataris untuk mengelola (kesejahteraan dan kemajuan rakyat) itu,” tegasnya dalam diskusi Polemik:Merdeka Tapi Cemas, di Jakarta Sabtu (14/8). Ia menambahkan, apabila negara terus menerus tidak hadir, maka rakyatnya akan muncul dan membuat Indonesia berubah menjadi negara kekerasan.
Pihak negara yang dimaksudnya adalah semua bagian dari eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pengabaian semacam ini, kata dia, membuat warga negara yang merasa aspirasinya kurang didengar dalam proses demokrasi, maka menjadi anarkis karena tidak adanya penyaluran.
Berbagai tindak kekerasan itu, menurut dia, harus ditindak secara hukum. "Namun, yang terjadi justru malah sebaliknya. Tidak ada tindakan apapun dari aparat keamanan, dalam hal ini kepolisian," kata Din.
Kebebasan beragama, kata Din, bukan lahir karena konstitusi yang diciptakan oleh negara, melainkan muncul karena prinsip-prinsip beragama itu sendiri. "Jadi, kalau ada kelompok yang menyatakan agama tidak mendukung kebebasan beragama kelompok lain, mereka itu itulah yang sebenarnya kelompok anti agama," tegas Din.
Untuk mengatasi persoalan ini, Din berharap persoalan agama tidak diserahkan kepada masyarakat seperti layaknya pasar bebas. "Kalau urusan kebebasan beragama diserahkan ke pasar bebas itu jelas tidak baik. Tetapi, harus diatur,” katanya. Pemerintah, merupakan pihak yang berkewajiban untuk mengaturnya, sehingga ada kesadaran bersama.
Sementara Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhi Massardi berpendapat maraknya tindak kekerasan yang membawa-bawa bendera Islam sebagai akibat sikap pemerintahan yang plin-plan dan tidak berani mengambil tindakan tegas."Kapolrinya melihat presidennya setengah-setengah, dia juga ikut setengah-setengah," ujarnya. Ardhi juga menuding pemilu presiden yang sarat unsur pencitraan ikut berperan membentuk situasi tersebut. "Yang muncul yakni presiden sebagai pemimpin citra."
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan Jatuh 11 Agustus
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama, memutuskan bahwa 1 Ramadhan 1431 H jatuh Hari Rabu 11 Agustus 2010 M. Dengan demikian, berdasar keputusan sidang istbat Kementerian Agama, mulai besok umat Islam di seluruh Indonesia mulai menjalankan ibadah puasa.
Kepastian soal awal ramadhan ini disampaikan oleh Menteri Agama, Suryadharma Ali, usai sidang Itsbat yang berlangsung di Jakarta, petang ini. "Hasil menunjukkan bahwa hilal sudah di atas ufuk dan sudah bisa dirukyat," ujar dia. Suryadharma mengungkapkan bahwa pihaknya juga secara resmi menyelanggarakan rukyat di 10 titik dengan merangkul instansi-instansi terkait.
"Setelah mencermati berbagai laporan, serta mencermati pertimbangan dan pandangan para ormas Islam dan ulama, maka kami berkesimpulan, kita semua sepakat, besok atau tanggal 11 Agustus 2010 adalah tanggal 1 Ramadhan 1431 H," kata Suryadharma menjelaskan.
Sebelum mengumumkan soal jatuhnya 1 Ramadhan, Menteri Agama terlebih dulu mendengarkan laporan dari Ketua Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama Republik Indonesia, H Rohadi Abdul Fatah. Dia mengungkapkan bahwa beberapa dasar penghitungan hisab menunjukkan bahwa ijtima' menjelang Ramadhan jatuh Selasa 10 Agustus 2010 atau bertepatan 29 Sya'ban, sekitar pukul 10.09 WIB.
Sedangkan tinggi hilal saat matahari terbenam, kata dia, memiliki ketinggian antara 1 derajat 14 menit hingga 2 derajat 32 menit. Rohadi juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima laporan terlihatnya hilal di empat titik. Kata dia, hilal terlihat di Probolinggo, Gresik, Cilincing, dan Bengkulu. Menurut Rohadi, mereka yang melihat hilal itu sudah disahkan kesaksiannya oleh Pengadilan Agama setempat.
Di tengah pengumuman awal Ramadhan usai sidang itsbat, Suryadharma sempat menerima pertanyaan dari beberapa pihak. Salah satu penanya yang juga peneliti Lapan, Thomas Djamaluddin mengingatkan pemerintah untuk menetapkan kriteria soal terlihatnya hilal. Dengan demikian perbedaan penetapan awal bulan penanggalan hijriyah bisa diselesaikan.
Menjadikan Kalender Islam Sebagai Pemersatu Umat, Bisakah?
Polemik perbedaan penetapan awal Ramadhan yang kerap terjadi antara sejumlah ormas islam menurut Peneliti Astronomi-Astrofisika, LAPAN, Thomas Djamaluddin terjadi karena ketiadaan pedoman hilal yang jelas. Dalam sidang isbat awal Ramadhan lalu, Djamaluddin meminta Kementerian Agama untuk memfasilitasi dialog antarormas Islam guna mendapatkan kesepatkan prihal kriteria hilal.
Menurut Djamaluddin, kesepatakan kriteria hilal tidak semata bertujuan untuk menentukan hari besar islam saja. Lebih dari itu, ia melihat ada tujuan yang lebih besar lagi, yakni menuju kalendar islam yang mempersatukan umat. Berikut pemikirannya tentang kalendar Islam pemersatu umat,
Sistem kalender yang mapan mensyaratkan tiga hal:
- Ada batasan wilayah keberlakukan (nasional atau global).
- Ada otoritas tunggal yang menetapkannya.
- Ada kriteria yang disepakati
Saat ini syarat pertama dan kedua secara umum sudah tercapai. Batasan wilayah hukum Indonesia telah disepakati oleh sebagian besar ummat Islam Indonesia, walau ada sebagian yang menghendaki wilayah global. Menteri Agama secara umum pun bisa diterima sebagai otoritas tunggal yang menetapkan kalender Islam Indonesia dengan dilengkapi mekanisme sidang itsbat untuk penetapan awal Ramadhan dan hari raya. Sayangnya, syarat ketiga belum tercapai. Saat ini masing-masing ormas Islam masih mempunyai kriteria sendiri, walau saat ini mulai ada semangat untuk mencari titik temu.
Seandainya kriteria yang saat ini berlaku (wujudul hilal dan ketinggian minmal 2 derajat) tetap menjadi acuan Ormas-ormas Islam, maka potensi perbedaan akan terus terjadi pada tahun-tahun mendatang:
- Idul Adha 1431/2010 berpotensi terjadi perbedaan karena tinggi bulan hanya sekitar 1,7 derajat.
- Idul Fitri 1432/2011 berpotensi terjadi perbedaan karena tinggi bulan hanya sekitar 2 derajat.
- Awal Ramadhan 1433/2012 dan 1434/2013 berpotensi terjadi perbedaan karena tinggi bulan hanya sekitar 2 derajat dan 0,7 derajat.
- Awal Ramadhan dan Idul Fitri 1434/2014 berpotensi terjadi perbedaan karena tinggi bulan hanya sekitar 0,8 derajat.
Sekarang saatnya kita semua terbuka dan berupaya mewujudkan kalender Islam yang mapan dan mempersatukan ummat. Kriteria Hisab Rukyat Indonesia baru perlu diusulkan berdasarkan data rukyat Indonesia yang didukung oleh kriteria astronomi internasional dengan berdasarkan pertimbangan faktor pengganggu utama yaitu kontras cahaya di sekitar matahari dan cahaya senja di atas ufuk. Kriteria baru yang diusulkan dan cukup sederhana adalah sebagai berikut:
Jarak bulan-matahari 6,4 derajat dan beda tinggi bulan-matahari 4 derajat
Dengan ketentuan:
- Seandainya ada kesaksian rukyat yang meragukan, di bawah kritria tersebut, maka kesaksian tersebut harus ditolak.
- Bila ada kesaksian rukyat yang meyakinkan (lebih dari satu tempat dan tidak ada objek yang menggangu atau ada rekaman citranya), maka kesaksian harus diterima dan menjadi bahan untuk mengoreksi kriteria hisab rukyat yang baru.
- Bila tidak ada kesaksian rukyatul hilal karena mendung, padahal bulan telah memenuhi kriteria, maka data tersebut dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan, karena kriteria hisab rukyat telah didasarkan pada data rukyat terdahulu (berarti tidak mengabaikan rukyat).
8/08/2010
Selain Hindari 50 Penyakit, Puasa Juga Usir Radikal Bebas
Orang yang berpuasa bisa menghindari sedikitnya 50 jenis penyakit. Hal ini lantaran ketika berpuasa, produksi oksidan atau radikal bebas berkurang sementara tubuh memproduksi antioksidan.
“Pada saat puasa, hormon dalam tubuh berubah salah satunya menghasilkan antioksidan. Pada hari ke 7-14 kadar antioksidan akan meningkat,“ ujar dokter konsultan gizi, Sri Rusmanti, dalam diskusi Tinjauan Manfaat Puasa dari Sisi Medis di Rumah Sakit Umum Islam Kustati Solo, Sabtu (8/8).
Rusmanti menjelaskan metabolisme akan menghasilkan sisa yang jika menumpuk akan berbahaya bagi tubuh. Metabolisme karbohidrat akan menghasilkan sisa oksidan atau radikal bebas.
Zat kimia ini sangat reaktif dan mampu bereaksi dengan protein, lemak, karbohidrat, atau inti sel tubuh. “Reaksi antara radikal bebas dan molekul itu mengakibatkan rusaknya beberapa sel jaringan dalam tubuh sehingga timbullah penyakit, “ ujarnya.
Penyakit yang timbul dari radikal bebas, ujarnya, umumnya adalah penyakit degeneratif atau penuaan dini dan peradangan. Radikal bebas juga dapat menyerang inti sel sehat yang kemudian dapat bermutasi menjadi sel tumor atau kanker. Pada dinding pembuluh darah, radikal bebas dapat menyebabkan peradangan yang mengakibatkan penyakit jantung koroner. Radikal bebas dalam pembuluh darah dapat menyebabkan penyakit hipertensi dan stroke.
Dalam jumlah yang sedikit, radikal bebas bermanfaat untuk membunuh kuman atau virus. Tetapi jika berlebih, radikal bebas disejajarkan dengan racun. Selain berasal dari metabolisme tubuh, radikal bebas tersebut juga dapat berasal dari lingkungan luar, seperti zat polutan, makanan berpengawet, atau makanan tinggi kadar gula dan garam.
Tak hanya itu, Rusmanti mengatakan, metabolisme protein juga akan menghasilkan sampah asam urat, amoniak, dan ureum. Berlebihnya sisa asam urat dalam tubuh menyebabkan penyakit asam urat, sementara amoniak dapat meracuni otak.
“Sebenarnya tubuh punya mekanisme pembuangan sendiri lewat kencing, buang air besar, dan keringa. Ttetapi, ada yang makan lebih dari yang dibutuhkan tubuh sehingga tidak semua zat sisa keluar, “ ujarnya.
Penetralan zat sisa metabolisme tubuh tersebut akan berlangsung ketika seseorang berpuasa. Tubuh akan menghasilkan zat yang dapat menetralkan sisa metabolisme tersebut seperti insulin yang mengelola gula darah. Puasa juga akan menurunkan kadar adrenalin, zat yang memicu kerja jantung sehingga emosi akan turun. Hormon kesuburan, testosterone ternyata juga meningkat pada orang yang berpuasa. Karena itu, Rusmanti menyebutkan, sedikitnya sekitar 50 penyakit dapat dicegah dengan puasa.
Meski demikian, Rusmanti mengungkapkan, penyakit tersebut hanya dapat dicegah dengan puasa yang benar. Selain menjalankan segala ibadah sesuai ajaran Islam, orang yang berpuasa juga menjalankan pola makan yang baik yakni makan makanan yang tidak tercampur dengan bahan-bahan berbahaya. Saat buka dan sahur pun, asupan makanan diharuskan tidak berlebihan.
Dia mengutarakan, pada saat berbuka, sebaiknya mengonsumsi minuman yang bersuhu sama dengan suhu tubuh. “Kalau minum es akan memicu asam lambung, akibatnya akan kembung dan mengganggu pencernaan berikutnya, “ ujarnya.
Memakan kurma tiga biji saja pada saat berbuka sudah dapat menghasilkan 50 kalori untuk menjalankan shalat Maghrib. Kebiasaan menyantap kolak bersantan sebenarnya kurang tepat karena memerlukan proses pencernaan sehingga kurang cepat menghasilkan energy.
Selesai shalat, Rusmanti menganjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mudah dicerna dan tidak tinggi lemak, serat, dan protein. Nasi yang diolah harus memiliki kematangan yang cukup. Untuk jenis sayuran, Rusmanti menganjurkan yang tidak mengandung serat tinggi dan mudah diproses seperti bayam, wortel, dan terong. Konsumsi daging sebaiknya tidak menyertakan kulit dan dikunyah sampai lembut.
Saat sahur, Rusmanti menyarankan, sebaiknya mengonsumsi makanan yang banyak mengandung serat. Makanan kaya serat tidak akan segera dicerna usus sehingga tidak cepat lapar. Makanan tersebut diantaranya nasi, kacang-kacangan termasuk tempe, dan sayuran. Untuk menjaga stamina, pada saat sahur juga sebaiknya mengonsumsi karbohidrat dan protein dari makanan seperti telur ataupun susu sapi.
Konsumsi roti atau mie, ujar Rusmanti, sebaiknya dihindari karena cepat menimbulkan rasa lapar disamping adanya kandungan zat kimia. Pada saat sahur, hindari pula gorengan karena memerlukan banyak air dalam proses pencernaan sehingga menimbulkan rasa haus. Ketika sahur, hal yang paling utama diperhatikan adalah mengonsumsi air untuk mencegah dehidrasi atau kekurangan cairan pada saat puasa.
“Pada saat puasa, hormon dalam tubuh berubah salah satunya menghasilkan antioksidan. Pada hari ke 7-14 kadar antioksidan akan meningkat,“ ujar dokter konsultan gizi, Sri Rusmanti, dalam diskusi Tinjauan Manfaat Puasa dari Sisi Medis di Rumah Sakit Umum Islam Kustati Solo, Sabtu (8/8).
Rusmanti menjelaskan metabolisme akan menghasilkan sisa yang jika menumpuk akan berbahaya bagi tubuh. Metabolisme karbohidrat akan menghasilkan sisa oksidan atau radikal bebas.
Zat kimia ini sangat reaktif dan mampu bereaksi dengan protein, lemak, karbohidrat, atau inti sel tubuh. “Reaksi antara radikal bebas dan molekul itu mengakibatkan rusaknya beberapa sel jaringan dalam tubuh sehingga timbullah penyakit, “ ujarnya.
Penyakit yang timbul dari radikal bebas, ujarnya, umumnya adalah penyakit degeneratif atau penuaan dini dan peradangan. Radikal bebas juga dapat menyerang inti sel sehat yang kemudian dapat bermutasi menjadi sel tumor atau kanker. Pada dinding pembuluh darah, radikal bebas dapat menyebabkan peradangan yang mengakibatkan penyakit jantung koroner. Radikal bebas dalam pembuluh darah dapat menyebabkan penyakit hipertensi dan stroke.
Dalam jumlah yang sedikit, radikal bebas bermanfaat untuk membunuh kuman atau virus. Tetapi jika berlebih, radikal bebas disejajarkan dengan racun. Selain berasal dari metabolisme tubuh, radikal bebas tersebut juga dapat berasal dari lingkungan luar, seperti zat polutan, makanan berpengawet, atau makanan tinggi kadar gula dan garam.
Tak hanya itu, Rusmanti mengatakan, metabolisme protein juga akan menghasilkan sampah asam urat, amoniak, dan ureum. Berlebihnya sisa asam urat dalam tubuh menyebabkan penyakit asam urat, sementara amoniak dapat meracuni otak.
“Sebenarnya tubuh punya mekanisme pembuangan sendiri lewat kencing, buang air besar, dan keringa. Ttetapi, ada yang makan lebih dari yang dibutuhkan tubuh sehingga tidak semua zat sisa keluar, “ ujarnya.
Penetralan zat sisa metabolisme tubuh tersebut akan berlangsung ketika seseorang berpuasa. Tubuh akan menghasilkan zat yang dapat menetralkan sisa metabolisme tersebut seperti insulin yang mengelola gula darah. Puasa juga akan menurunkan kadar adrenalin, zat yang memicu kerja jantung sehingga emosi akan turun. Hormon kesuburan, testosterone ternyata juga meningkat pada orang yang berpuasa. Karena itu, Rusmanti menyebutkan, sedikitnya sekitar 50 penyakit dapat dicegah dengan puasa.
Meski demikian, Rusmanti mengungkapkan, penyakit tersebut hanya dapat dicegah dengan puasa yang benar. Selain menjalankan segala ibadah sesuai ajaran Islam, orang yang berpuasa juga menjalankan pola makan yang baik yakni makan makanan yang tidak tercampur dengan bahan-bahan berbahaya. Saat buka dan sahur pun, asupan makanan diharuskan tidak berlebihan.
Dia mengutarakan, pada saat berbuka, sebaiknya mengonsumsi minuman yang bersuhu sama dengan suhu tubuh. “Kalau minum es akan memicu asam lambung, akibatnya akan kembung dan mengganggu pencernaan berikutnya, “ ujarnya.
Memakan kurma tiga biji saja pada saat berbuka sudah dapat menghasilkan 50 kalori untuk menjalankan shalat Maghrib. Kebiasaan menyantap kolak bersantan sebenarnya kurang tepat karena memerlukan proses pencernaan sehingga kurang cepat menghasilkan energy.
Selesai shalat, Rusmanti menganjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mudah dicerna dan tidak tinggi lemak, serat, dan protein. Nasi yang diolah harus memiliki kematangan yang cukup. Untuk jenis sayuran, Rusmanti menganjurkan yang tidak mengandung serat tinggi dan mudah diproses seperti bayam, wortel, dan terong. Konsumsi daging sebaiknya tidak menyertakan kulit dan dikunyah sampai lembut.
Saat sahur, Rusmanti menyarankan, sebaiknya mengonsumsi makanan yang banyak mengandung serat. Makanan kaya serat tidak akan segera dicerna usus sehingga tidak cepat lapar. Makanan tersebut diantaranya nasi, kacang-kacangan termasuk tempe, dan sayuran. Untuk menjaga stamina, pada saat sahur juga sebaiknya mengonsumsi karbohidrat dan protein dari makanan seperti telur ataupun susu sapi.
Konsumsi roti atau mie, ujar Rusmanti, sebaiknya dihindari karena cepat menimbulkan rasa lapar disamping adanya kandungan zat kimia. Pada saat sahur, hindari pula gorengan karena memerlukan banyak air dalam proses pencernaan sehingga menimbulkan rasa haus. Ketika sahur, hal yang paling utama diperhatikan adalah mengonsumsi air untuk mencegah dehidrasi atau kekurangan cairan pada saat puasa.
Aneka Cara Menyapa Ramadhan
Dalam hitungan hari, kita segera memasuki pelataran universitas Ramadhan. Suka atau tidak, sebagai hamba-Nya yang beriman, kita akan masuk dan mengikuti semua proses pendidikan di dalamnya. Sebuah unit pendidikan Rabbani yang akan melahirkan para wisudawan terbaik dengan gelar al-Muttaqin (bertakwa). "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." (QS Albaqarah [2]: 183).
Abdullah bin Ash-Shamit meriwayatkan bahwa ketika Ramadhan datang, Rasulullah SAW mengingatkan, "Jika Ramadhan telah tiba maka terbukalah pintu-pintu surga, tertutup pintu-pintu neraka. Bulan penuh berkah itu telah datang kepadamu. Pada bulan itu, Allah melimpahkan (karunia-Nya) kepadamu. Dia menurunkan rahmat, menghapuskan kesalahan-kesalahan dan mengabulkan doa. Allah akan melipatgandakan semua kebaikanmu di bulan itu dan akan membanggakanmu di hadapan para malaikat. Maka tampilkanlah dari diri kamu yang baik-baik. Karena orang yang malang adalah orang yang tidak mendapatkan rahmat Allah pada bulan itu." (HR Ath-Thabrani).
Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Kita bisa lihat, para insan media--baik cetak maupun elektronik--terguyur keberkahan Ramadhan, dengan pariwara komersialnya. Penggiat entertainment kebanjiran manggung dan peran. Para ustaz banyak menerima panggilan ceramah.
Pekerja, karyawan, dan buruh, akan mendapatkan bonus, THR, dan lain sebagainya. Jika berkaca dari hadis ini, Ramadhan ingin menaburkan keberkahan bagi para penyambutnya.
Ramadhan berarti pembakaran dan peleburan. Yang biasa dibakar adalah sesuatu yang kotor, misalnya sampah. Sampah yang berserak, bertumpuk, dan mengeluarkan aroma tak sedap. Jika sampah dibakar, pelataran rumah kita, insya Allah akan kembali bersih.
Namun, ada juga yang biasa kita bakar dan bukan sesuatu yang kotor, seperti besi. Besi ketika dibakar, oleh seorang pandai besi, akan sangat mudah dibentuk sesuai dengan keinginan. Ia bisa dijadikan bahan untuk sepeda, motor, mobil, atau pesawat.
Karena itu, Ramadhan yang akan kita jelang, semoga bisa menjadi alat untuk membakar dan meleburkan segala kotoran dosa dan maksiat, agar pekarangan hati kita menjadi bersih. Kemudian, kita bentuk agar hati itu menjadi semakin dekat dengan Allah SWT.
Ingatlah, ketika detik-detik Ramadhan tahun lalu akan berakhir, para malaikat bersedih dan meminta supaya satu tahun semua bulannya adalah Ramadhan. Kini, ketika Ramadhan kembali menyapa, tentu mereka, para malaikat dan semesta alam akan merasa haru dan bahagia menyambutnya. Maka itu, bersama gerak alam dan semesta yang berzikir, kita bentangkan tangan seraya menyiapkan diri dan menata hati untuk menyambut kehadirannya. Marhaban ya Ramadhan.
Awal Ramadhan Penganut Islam Aboge 12 Agustus
Penganut Islam Aboge (Alip Rebo Wage) di wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, meyakini awal bulan Ramadhan akan jatuh pada hari Kamis, 12 Agustus 2010.
''Hal itu diketahui berdasarkan hasil perhitungan yang telah digunakan oleh leluhur kami hingga sekarang,'' kata tokoh masyarakat Islam Aboge, Santibi (65), di Desa Cibangkong, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Ahad (8/8).
Menurut dia, penganut Islam Aboge meyakini bahwa dalam kurun waktu delapan tahun atau satu windu terdiri dari tahun Alif, Ha, Jim, Awal, Za, Dal, Ba, Wawu, dan Jim akhir. Berdasarkan keyakinan ini, kata dia, penganut Aboge melihat jika sekarang merupakan tahun Dal sehingga tanggal 1 Muharam jatuh pada hari Sabtu dengan hari pasarannya Legi atau Dal-Tu-Gi (tahun Dal hari pertamanya Sabtu Legi).
Dengan demikian, lanjutnya, hari pertama tahun baru tersebut (1 Muharam) dijadikan patokan untuk melakukan perhitungan hari termasuk mengetahui awal puasa Ramadhan. ''Dalam hal ini, kami menggunakan perhitungan yang menyebutkan bulan, hitungan hari, dan hitungan pasaran yang diturunkan dari Dal-Tu-Gi tersebut,'' jelasnya.
Menurut dia, dalam satu tahun terdiri 12 bulan dan satu bulan terdiri atas 29-30 hari. Oleh karena itu, kata dia, untuk menghitung awal puasa Ramadhan menggunakan perhitungan Sa-Nem-Ro (puasa-enem-loro) atau Do-Nem-Ro (Ramadhan-enem-loro) yang dihitung dari hari pertama tahun Dal, yakni Sabtu Legi.
''Berdasarkan Sa-Nem-Ro atau Do-Nem-Ro tersebut diketahui awal puasa atau tanggal 1 Ramadhan jatuh pada hari keenam (enem) dan pasaran kedua (loro), yakni Kamis Pahing atau 12 Agustus 2010. Itu semua karena hari pertama tahun Dal jatuh pada Sabtu Legi sehingga hari keenamnya jatuh pada hari Kamis dan pasaran keduanya adalah Pahing,'' paparnya.
Seperti diketahui, di Kabupaten Banyumas terdapat ratusan penganut Islam Aboge yang tersebar di sejumlah desa, antara lain Desa Cibangkong (Kecamatan Pekuncen), Desa Kracak (Ajibarang), Desa Cikakak (Wangon), dan Desa Tambaknegara (Rawalo). Selain itu, di Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, juga terdapat ratusan penganut Islam Aboge.
Penganut Islam Aboge atau Alip-Rebo-Wage (A-bo-ge) merupakan pengikut aliran yang diajarkan Raden Rasid Sayid Kuning. Perhitungan yang dipakai aliran Aboge telah digunakan para wali sejak abad ke-14 dan disebarluaskan oleh ulama Raden Rasid Sayid Kuning dari Pajang.
8/02/2010
Rahasia Tetap Bugar Saat Berpuasa
Sebentar lagi, umat Islam diwajibkan puasa selama 14 jam sejak imsak sampai adzan Magrib pada bulan Ramadhan. Tak sedikit, orang yang berpuasa mengeluh dirinya merasa lemas karena aktivitasnya tetap berjalan seperti biasa. Lalu, bagaimana agar tetap fit dan bugar saat berpuasa?
Dokter Ahli Gizi, Samuel Oetoro, mengungkapkan, orang yang menjalani ibadah puasa biasa merasa lemas karena ada kesalahan dalam mengonsumsi makanan selama berpuasa. Saat berbuka, banyak orang biasa mengonsumsi yang manis-manis dari semua jenis gula, seperti kolak, sirup, dan sejenisnya.
“Gula dapat menaikkan tensi darah secara cepat dan juga mengurangi dengan cepat,” ungkapnya. Selama bulan Ramadhan, lanjut dokter dari Cluster Wellnes RSCM Kencana ini, orang yang berpuasa harus menerapkan gizi seimbang sesuai kebutuhan tubuh. Tubuh manusia membutuhkan karbohidrat kompleks sebanyak 60 persen, seperti makanan yang mengandung serat, buah dengan kulitnya, banyak makan sayur, protein sebanyak 10-15 persen, dan lemak sehat yang terkandung dalam kedelei, alpukat, dan lain-lain.
Lebih rinci ia menganjurkan, ketika sahur, sebaiknya mengonsumsi makanan yang menyuplai energi dalam tubuh agar fit sepanjang hari, seperti makan besar yang mengandung karbohidrat, protein, dan lemak. Sedangkan menjelang imsak, cukup mengonsumsi karbohidrat, yaitu buah dan kulitnya serta sayuran.
Karena sore hari gula darah dalam tubuh biasanya drop dan harus dinaikkan tensinya, saat berbuka dianjurkan mengonsumsi yang manis dari buah-buahan, salah satunya kurma dan buah-buahan yang diblender. Setelah shalat Maghrib, Samuel merekomendasikan makan besar dengan gizi seimbang.
Usai salat tarawih juga dianjurkan makan lagi dengan bahan yang kaya karbohidrat seperti roti gandum, buah, sayur, untuk memperkuat otot, dan melancarkan darah. Selain makanan sehat, Samuel mengingatkan agar orang berpuasa tetap olahraga. Sebaiknya pada sore hari 30 menit sebelum berbuka. “Biar langsung minum setelah buka, karena setelah berolahraga tubuh kita butuh air,” tutur dia.
Ingin Tubuh Lebih Kebal? Ayo Berpuasa
Rasulullah Muhammad saw bersabda, "Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.” Mengapa Rasullullah menasehatkan demikian? Sebab, puasa dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh sehingga terlindungi dari banyak penyakit dan itu terbukti dalam dunia medis.
Menurut Dokter Spesialis Saraf, Arman Yurisaldi, jika ditinjau dari segi medis, puasa dapat memengaruhi dua aspek pelakunya yaitu, aspek neuro-psikologis dan non-neuro-psikologis. Aspek neuro-psikologis, puasa menjadi sebuah ajang pengendalian diri dan kesabaran yang dapat melatih bagian otak di pusat pengendali emosi atau amygdala. Ketika emosi membaik, steroid dan adrenalin yang disekresi di dalam tubuh pun cukup dan dalam kadar normal.
Dengan demikian, papar Arman, emosi akan stabil dan daya tahan tubuh meningkat. Steroid yang dikeluarkan dalam kadar cukup membuat sistem pertahanan terhadap kuman meningkat, ini dikenal dengan istilah psiko-neuro-imunology. Menurut Arman, pola hidup Rasul saw harus selalu dijadikan teladan. Sepanjang hayatnya, Nabi saw., sakit hanya satu kali menjelang wafat. Sudah menjadi pengetahuan umum dikalangan sahabat dan pengikutnya bahwa Rasul saw., sering berpuasa sehingga emosinya stabil.
“Bila tubuh memiliki keadaan emosi tak terkendali, adrenalin akan melonjak sehingga mengakibatkan tekanan darah tinggi,” ungkapnya. “Steroid yang dikendalikan bagian otak cortisol akan disekresi oleh ginjal. Sehingga steroid dapat menurunkan jumlah serotonin di otak, Padahal serotonin adalah hormon yang mendorong perasaan gembira” tambahnya.
Arman juga menuturkan, penurunan serotonin akan menimbulkan depresi. Akibatnya orang merasa sedih, nafsu makan menurun, nafsu seks pada pasangan menurun, sulit tidur dan juga sering bermimpi buruk. “Jadi, sudah bisa dipastikan dari segi medis, puasa dapat menyehatkan jasmani dan rohani kita,” tuturnya.
Sedangkan pada aspek nonneuro-psikologik, tambah Arman, puasa dapat menjadikan organ-organ penceranaan beristrirahat sejenak. Apabila organ tubuh terus menerus bekerja insulin bisa terhenti dan berakibat diabetes. Begitu juga dengan jantung, lambung dan usus, kerja mereka, kata Arman, akan kembali stabil dengan kebiasaan berpuasa.
Dengan demikian, lanjut Arman, jiwa dan pikiran orang yang berpuasa akan selalu stabil karena dilingkupi suasana keimanan, banyak beribadah, berzikir, dan membaca Alquran. Mereka yang berpuasa akan menghindarkan diri dari amarah dan kecemasan, menekan keinginan dan mengarahkan potensi-potensi psikis dan fisik ke arah yang positif dan bermanfaat.
Menurut Dokter Spesialis Saraf, Arman Yurisaldi, jika ditinjau dari segi medis, puasa dapat memengaruhi dua aspek pelakunya yaitu, aspek neuro-psikologis dan non-neuro-psikologis. Aspek neuro-psikologis, puasa menjadi sebuah ajang pengendalian diri dan kesabaran yang dapat melatih bagian otak di pusat pengendali emosi atau amygdala. Ketika emosi membaik, steroid dan adrenalin yang disekresi di dalam tubuh pun cukup dan dalam kadar normal.
Dengan demikian, papar Arman, emosi akan stabil dan daya tahan tubuh meningkat. Steroid yang dikeluarkan dalam kadar cukup membuat sistem pertahanan terhadap kuman meningkat, ini dikenal dengan istilah psiko-neuro-imunology. Menurut Arman, pola hidup Rasul saw harus selalu dijadikan teladan. Sepanjang hayatnya, Nabi saw., sakit hanya satu kali menjelang wafat. Sudah menjadi pengetahuan umum dikalangan sahabat dan pengikutnya bahwa Rasul saw., sering berpuasa sehingga emosinya stabil.
“Bila tubuh memiliki keadaan emosi tak terkendali, adrenalin akan melonjak sehingga mengakibatkan tekanan darah tinggi,” ungkapnya. “Steroid yang dikendalikan bagian otak cortisol akan disekresi oleh ginjal. Sehingga steroid dapat menurunkan jumlah serotonin di otak, Padahal serotonin adalah hormon yang mendorong perasaan gembira” tambahnya.
Arman juga menuturkan, penurunan serotonin akan menimbulkan depresi. Akibatnya orang merasa sedih, nafsu makan menurun, nafsu seks pada pasangan menurun, sulit tidur dan juga sering bermimpi buruk. “Jadi, sudah bisa dipastikan dari segi medis, puasa dapat menyehatkan jasmani dan rohani kita,” tuturnya.
Sedangkan pada aspek nonneuro-psikologik, tambah Arman, puasa dapat menjadikan organ-organ penceranaan beristrirahat sejenak. Apabila organ tubuh terus menerus bekerja insulin bisa terhenti dan berakibat diabetes. Begitu juga dengan jantung, lambung dan usus, kerja mereka, kata Arman, akan kembali stabil dengan kebiasaan berpuasa.
Dengan demikian, lanjut Arman, jiwa dan pikiran orang yang berpuasa akan selalu stabil karena dilingkupi suasana keimanan, banyak beribadah, berzikir, dan membaca Alquran. Mereka yang berpuasa akan menghindarkan diri dari amarah dan kecemasan, menekan keinginan dan mengarahkan potensi-potensi psikis dan fisik ke arah yang positif dan bermanfaat.
Subscribe to:
Posts (Atom)






